Ilmu
5 October, 2006Dalam sebuah kelas tempat saya mengajar seorang murid bertanya tentang bagaimana cara praktis mengetahui bobot keilmuan seseorang. Pertanyaan ini muncul pada saat saya mengajak mereka mengobrol tentang maraknya gelar DR dan Professor diperjual-belikan dengan amat murahnya.
Sekilas saya teringat ucapan Abi Thalib: “Ikatlah Ilmu dengan tulisan”, maka saya langsung menjawabnya : “Bacalah karya tulisnya! Seberapa banyak dia menulis dan seberapa berbobotnya tulisannya itu menggambarkan dengan pas bobot keilmuannya.”
Tentu amat naif bila seseorang dengan bangga mencantumkan gelar DR atau bahkan Professor di depan namanya tetapi tidak punya karya tulis yang sepadan dengan bobot gelarnya itu.
“Apa lagi, pak?”, murid itu bertanya lagi.
Sejenak saya terdiam memikirkan jawaban yang pas. Tiba-tiba saya teringat beberapa waktu silam ketika saya ber-takziah ke rumah seorang ulama yang telah dipanggil Sang Khalik. Sedemikian banyak pen-takziah sehingga jalan besar di depan rumah almarhum tak mampu lagi menampung kendaraan yang diparkir. Polantas bahkan lalu terpaksa menutup jalan itu dan mengalihkan arus lalu liuntas melalui jalan lain.
Ya! Saya sudah menemukan jawabannya! Dengan semangat saya mengatakan: “Seberapa banyak muridnya dan seberapa berbobot muridnya itu”.
Pasti ada hal-hal lain yang bisa dijadikan patokan bobot keilmuan seseorang. Tapi hanya itu yang saya sampaikan karena si murid tidak bertanya lagi dan bel penanda pelajaran berakhir sudah berdering dengan kerasnya …
12 Ramadhan 1427 H

- 