ABI TERCINTA
22 January, 2004Di dompet saya ada dua lembar lima puluh ribuan yang saya tempatkan secara khusus, dan tidak akan pernah saya belanjakan insha Allah dalam keadaan apapun. Keduanya awet menempati “singgasana”nya di dompet selama kurang lebih 3 tahun. Andaikata ada orang “aneh” yang mau menukarkannya dengan uang 5 juta rupiah, saya pasti akan menolaknya. Entah kalau 50 juta rupiah … Barangkali akan saya pertimbangkan ….
Mengapa keduanya begitu istimewa ?
Sudah menjadi tradisi di keluarga besar kami di hari Raya Idhul Fitri Allahyarham Abi (panggilan kami untuk ayahanda tercinta) memanggil semua anak, menantu dan cucu selekas selesai sholat Ied dan bermaafan. Biasanya kami semua sudah siap berkumpul untuk menghadapi “acara” istimewa itu. Dipanggilnya satu demi satu kami semua, dimulai dari anak pertama dan seterusnya untuk mendapatkan hadiah lebaran berupa lembaran uang tertentu. Dengan wajah berbinar dan berlari-larian kesenangan semua cucu biasanya mengibar-ngibarkan uang yang sudah diterimanya, sambil diiringi senyuman orangtua masing-masing.
Saya mempunyai kebiasaan menyimpan lembaran uang itu di dompet terpisah dengan uang yang lain, dan tidak pernah saya belanjakan dalam keadaan apapun. Isteri saya iseng-iseng bertanya untuk apa. ” Buat azimat …”, jawab saya sekenanya.
Kini, Abi tidak lagi bisa memberikan hadiah kepada kami. Allah Yang Maha Memiliki telah mengambilnya hari ini tepat setahun yang lalu (dihitung dengan penanggalan hijriah).
Meski demikian, ada siraman hadiah dari Abi yang tidak akan pernah habis. Hadiah yang hanya bisa kami rasakan ketika kenangan kepada beliau mengisi relung-relung hati kami yang paling dalam.
Selamat jalan, Abi. Semoga Yang Maha Pengampun menghapus semua dosa Abi selama di dunia! Amin!
Bekasi, 22 Januari 2004.
Sambil memandangi kubur Abi
Yang tengah dikelilingi para santrinya mengalunkan Kalam Ilahi