Hari ini, 15 Juli 2004, dan sehari sebelumnya, saya sudah memutuskan untuk menemani Hirzy (anak saya yang pertama) mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru. Sebenarnya kalau hanya untuk mengantarkannya ke tempat ujian saya bisa minta tolong ‘Mun (pembantu saya). Namun saya memutuskan untuk membatalkan seluruh rencana saya yang lain, untuk memberi support kepada sulung saya itu.
Sebenarnya Hirzy sudah diterima di sebuah PTN melalui penelusuran minat dan kemampuan di fakultas yang dipilihnya: Ilmu Komputer. Sayangnya PTN itu bukan Universitas Indonesia, sebuah PT yang amat sangat dimimpikannya. Jadi dia tetap pada target semula: Masuk UI sebagai pilihan pertama, dan IPB sebagai pilihan kedua. Saya tentu mendukungnya. Saya selalu menanamkan pegangan kepadanya untuk berikhtiar semaksimal mungkin, mengenai hasilnya serahkan saja kepada Yang Maha Menentukan.
Fa iza ‘azamta, fatawakkal alaLlah.
Selesai “bertarung” di sebuah SLTPN di Jalan Tirtayasa siang tadi, Hirzy memasuki mobil dengan menyerahkan sebuah fotokopi kecil yang berisikan informasi biaya Uang Pangkal bila diterima di UI. Saya sebenarnya sudah membaca info ini di beberapa media kemarin. Jadi saya tidak kaget sama sekali melihat angka yang tertera di situ: Uang Pangkal UI tahun ini berkisar antara 5 s/d 25 juta rupiah. Untuk beberapa fakultas seperti Kedokteran, dan Ilmu Komputer, jelas sekali tercantum jumlahnya: 25 juta rupiah!!!!!!!
“Ayah punya uang sebesar itu?”, tanyanya, sedikit murung.
Sambil tertawa kecil (walau agak dibuat-buat) saya menjawab:
“Tenang saja, A! (Aa adalah panggilannya di rumah). Keciiiiiilll ….!! Berdoa sajalah mudah-mudahan Aa diterima!”
Astaghfirulloh! Saya sama sekali tidak bermaksud mengatakan bahwa 25 juta itu angka yang kecil. Saya hanya ingin menenangkan hatinya, dan memastikannya bahwa sebagai orang tua saya siap menyiapkan biaya untuk pendidikan anak-anak saya.
Di perjalanan pulang saya tercenung ……..
UI ternyata bukan untuk mahasiswa yang tidak berpunya. Untuk masuk ke sana calon mahasiswa tidak hanya dituntut pandai, tetapi juga kaya.
Agaknya negeri ini tidak ingin anak negerinya menjadi manusia pandai!!