This is a backup of www.desa32.com. Feel free to click it.

Tahun Baru 2005

31 December, 2004

Biasanya keluarga besar kami menghabiskan akhir tahun di Cisarua. Ada sebuah rumah kami di sana, terletak bersebelahan dengan sebuah lembaga pendidikan milik Pak Hamzah Haz, sang mantan wapres. Tidak ada acara khusus. Paling-paling bercanda, saling meledek, bakar jagung, dan para keponakan yang termasuk katagori ABG biasanya langsung ke kawasan Puncak selepas sholat Isa.

Terkadang bila kami merasa malas berurusan dengan kemacetan kawasan Puncak, kami menghabiskan detik-detik akhir tahun di Ciater. Rumah di kawasan CIATER HIGHLAND RESORT yang biasanya sepi lantas berubah ramai dengan gelak tawa keluarga besar kami. Acaranya sama: bakar jagung.

Tetapi tahun ini saya memutuskan untuk di rumah saja. Rasanya tidak patut bersuka-ria di saat saudara-saudara kita mengalami musibah yang tak terperikan di Aceh. Saya merasa merenung diri di rumah jauh lebih afdol dalam keadaan seperti ini.

Selamat Tahun Baru 2005! Semoga kita semua makin sadar bahwa musibah adalah PERINGATAN ALLAH karena kita sudah terlalu terpuruk dalam lumpur dosa.

HAJI

29 December, 2004

Ketiga adik saya: Dhiya, Aiz, dan isterinya Betty tadi sore berangkat berhaji.

Haji adalah ibadah yang amat sangat mahal buat kebanyakan kita. Karenanyalah ALLAH hanya mewajibkannya kepada yang mampu saja. Dan cukup sekali seumur hidup. Haji berikut sunat saja hukumnya. Jangan sampai terjadi pergi haji berkali-kali mampu, tetapi tidak ada kemampuan memberikan pendidikan yang patut kepada anak-anak kalian.

Selamat jalan, semoga menjadi haji mabrur!

Kakek

21 December, 2004

Aik (Faiqoh tepatnya), kakak perempuan saya, menelpon pagi-pagi sekali mengabarkan bahwa puterinya Widy baru saja melahirkan anak pertamanya. Semuanya berjalan normal dan sesuai harapan. Alhamdulillah …!

Widy adalah keponakan pertama saya. Jadi anaknya nanti insha Allah tentunya memanggil saya kakek. Hahhh?! Kakek?

Sudah “setua” itukah saya ….? Tempus fugit ….. Time really flies …. ;)

Ana Wa Layla

18 December, 2004

Ada sebuah lagu berbahasa Arab yang dinyanyikan oleh Kazeem Assaher, penyanyi Irak yang kini berwarganegara Kanada, yang selalu menghilangkan kantuk saya di kendaraan. Lagunya panjang, hampir 20 menit. Syairnya sbb:

ماتت بمحراب عينيك ابتهالاتي
My entreaties died in the caverns of your eyes.
واستسلمت لرياح اليأس راياتي
And my flags surrendered to the winds of despair.
جفلت على بابك الموصد أزمنتي
My days escaped to find your door closed.
ليلى
Layla.
وما أثمرت شيئا نداءاتي..
And what transpired with the object of my cries?
عامان ما رف لي لحن على وتر..
Two years and she didn’t hear the melody of my strings…
ولا استفاقت على نور سماواتي
And she didn’t the see light of my sky.
أعتق الحب في قلبي وأعصره..فارشف الهم
I freed the love in my heart and squeezed it…Then I drank grief
في مغبر كاساتي
From a dirty chalice.

ممزق أنا..لا جاه ولا ترف يغريك في
And I became torn. I had no prestige or luxury to tempt you with.
فخليني لآهاتي..
So then leave me with my grief ..
لو تعصرين سنين العمر أكملها ..
If you squeeze the years of my life completely,
لسال منها نزيف من جراحاتي
The blood from my wounds would flow.
لو كنت ذا ترف ما كنت رافضة حبي..
If I had riches, you would not have refused my love.
ولكن عسر الحال، فقر الحال، ضعف الحال مأساتي.
But I am in a state of difficulty, a state of poverty, a state of weakness.

عانيت..عانيت
I suffered… I suffered
لا حزن أبوح به..ولست تدرين..شيئا عن معاناتي.
But I do not reveal my sorrow, and you did not know a thing about my suffering .
أمشي واضحك..ياليلى..مكابرة
I walk and smile, oh Layla, because I’m stubborn.
على اخبئ عن الناس احتضاراتي
So I hide from the people, my approaching death.
لا الناس تعرف ..ما امري فتعذرني
For if the knew what is the matter, they would try to console me.
ولا سبيل لديهم في مواساتي..
And I knew that they could not.
يرسو بجفني حرمان يمص دمي
Deprivation rests upon my brow and sucks my blood.
ويستبيح اذا شاء ابتساماتي
And only he can allow me to smile.
معذورة أنت ان اجهضت لي أملي
You are forgiven for aborting my hopes.
لا الذنب ذنبك بل كانت حماقاتي..
The fault is not yours; it was my foolishness.

أضعت في عرض الصحراء قافلتي
I wasted my procession in the desert.
و جئت أبحث في عينيك عن ذاتي..
And I came, looking for myself in your eyes.
و جئت احضانك الخضراء منتشيا
And I came, looking for happiness in your embrace.
كالطفل يحمل ..أحلامي البريئات
Like a child, I formed my innocent dreams.
غرست كفك تجتثين اوردتي
And you planted your palms and uprooted my veins.
وتسحقين بلا رفق مسراتي
And you are planted without the kindness of my pleasures.

وا غربتاه…
And she emigrated…
مضاع هاجرت مدني..عني
My lost cities emigrated away from me
وما أبحرت منها شراعاتي..
And my sails never left her.
نفيت واستوطن الأغراب في بلدي
I was exiled and the strangers settled in my country
ودمروا كل أشيائي الحبيبات..
And they destroyed all my beloved things.
خانتك عيناك
Your eyes betrayed you.
في زيف وفي كذب
With forgery and lying
أم غرك البهرج الخداع
Your confusion decieved you.
مولاتي
My lady.

فراشة جئت ألقي كحلا أجنحتي لديك
I came as a butterfly to place within your hands, the colors of my wings.
فاحترقت ظلما جناحاتي..
Then injustice burned my wings.
أصيح والسيف مزروع بخاصرتي
I screamed while the sword was implanted in my chest.
والغدر حطم آمالي العريضات
And the betrayal destroyed my huge hopes.
وأنت ايضا الا تبت يداك..
And you also, I perished on your hands.
الا تبت يداك
I perished from your hands.
اذ آثرت قتلي واستعذبت أناتي
Because you preferred my murder and loved the sound of my groans.
ملي بحذف اسمك الشفاف من لغاتي
And so I deleted your precious name from my languages.
إذن ستمسي بلا ليلى… ليلى
Therefore, they will be told without Layla… Layla
إذن ستمسي بلا ليلى ..حكاياتي
Therefore they will be told with

Tangkuban Perahu

12 December, 2004

Tangkuban Perahu
Kawah gunung yang amat terkenal ini sesungguhnya bukan tempat yang terlalu istimewa buat saya. Sudah tak terhitung saya mengunjunginya. Apalagi sejak sekitar lima tahun yang lalu gunung itu menjadi pandangan keseharian kami bila sedang berada di Ciater. Dari ruang tamu rumah mungil kami di Ciater Highland Resort, dengan jarak yang hanya sekitar 10 km dari rumah, puncak gunung itu tampak begitu mempesona; tak puas-puas kami memandangnya.

Tapi kunjungan kali ini saya rasakan sedikit berbeda: kami mengunjunginya lengkap sekeluarga!

Sudah sangat jarang saya bisa mengajak seluruh anak-anak saya menghabiskan akhir minggu di Ciater. Hirzy dan Tidy (si sulung dan adiknya) kerap menolak ikut karena acara masing-masing. Isteri saya dengan alasan capek lebih suka memilih mengisi akhir minggunya tidur di rumah kami di Bekasi. Ketiga anak saya yang lain: Hilly, Zhilal, dan Daffa, tentu saja hanya bisa ikut bila ibunya ikut. Rumah berkamar tiga itu (meski selalu dirawat dengan baik) seperti kesepian menunggu kunjungan kami.

Montana II/52.