This is a backup of www.desa32.com. Feel free to click it.

TELEVISI

30 January, 2005

Dulu waktu kecil televisi adalah barang mewah. Hanya keluarga tertentu saja yang memilikinya. Bila ingin menonton TV kita harus rela bersandar di balik jendela kaca rumah tetangga yang memilikinya. Kadang tirai jendela itu tidak dibuka sepenuhnya. Nyamuk …? Jangan ditanya lagi! Suara televisi seringkali ditingkahi bunyi telapak tangan menampar nyamuk yang menggigit.

Saya biasa menumpang nonton di rumah pak camat di depan rumah. Bila tirainya tidak dibuka, walau jendela sudah diketuk berkali-kali, bersama-sama dengan teman lain saya memilih sebuah rumah lain agak sedikit jauh dari situ. Abi (panggilan ayah saya) hanya memberi izin menonton sampai jam 20.00 saja. Setelah itu, seramai apapun acaranya, saya harus pulang. Kalau tidak pasti ada orang suruhan abi memaksa saya pulang.

Ketika saya duduk di kelas 5 barulah keluarga kami diberi cukup rezeki untuk membeli sebuah televisi. Sebuah kotak kecil berukuran 14 inchi yang hanya bisa mamancarkan gambar hitam putih.

Sekarang ……

Televisi cukup besar di ruang tengah itu hampir tidak pernah ditonton. Pembantu dan ibu mertua saya lebih senang menonton televisi di ruang keluarga lain. Ada sebuah Sony 21 inchi di sana. Hirzy, anak saya yang sulung (bila sedang tidak pulang ke tempat kosnya) menonton televisi di komputernya. Begitu juga, Tidy, anak kedua saya. Dia lebih suka menikmati acara televisi di kamarnya. Sedang Hilly, anak saya yang ketiga, waktu sunatan kemarin minta dihadiahi tv yang harus diletakkan di kamarnya.

Saya jadi teringat ketika saya menonton tv bersandar di jendela rumah tetangga sambil sibuk mengusir nyamuk …..

MAKSIAT

20 January, 2005

Perbuatan maksiat itu pasti nikmat luar biasa. Anda mau melakukannya dengan “aman”?

Silakan saja, asal ……..

1. Jangan memakan rezeki dari Allah!
2. Jangan tinggal di BumiNya!
3. Cari tempat sembunyi yang tidak terlihat olehNya!
4. Kalau satu saat nanti malaikat Pencabut Roh datang, minta kepadanya untuk menunda dulu kedatangan ajal anda supaya ada waktu untuk bertobat!
5. Jika malaikat Zabaniyah di akhirat nanti menuntun anda ke neraka, janganlah anda mau ikut dengannya!

Macet Dan Banjir

19 January, 2005

Hari ini jam 11.00 saya berangkat menuju Manggadua Mall untuk sebuah keperluan: mengambil LCD monitor saya yang sudah selesai diperbaiki. Sesampainya di tollgate Bekasi Barat saya sudah dihadang macet, dan terus tersendat sampai sekitar Sunter. Total waktu perjalanan ke M2M sekitar 3 jam!!

Pulangnyapun demikian. Sekitar 3 jam diperjalanan. Dari Radio Elshinta saya mendapat laporan bahwa kemacetan terjadi hampir di semua ruas jalan di Jakarta, dan bahkan di Jalan Toll Cikampek kemacetan sudah terjadi sebelum Cikarang.

Penyebabnya satu: banjir di Jakarta!!!

Ratusan tahun dijajah Belanda rupanya kita masih belum bisa menyerap ilmu orang Belanda dalam menangani masalah banjir.

Khitanan Hilli

16 January, 2005

Alhamdulillah acara syukuran khitanan Hilly sudah berakhir. Kemarian seharian saya bersama isteri menerima tamu yang datang memenuhi undangan kami. Capeknya terasa betul sampai sekarang

Haul Abi 2

9 January, 2005

Di makam abi

Tak terasa 2 tahun sudah berlalu (dihitung dengan Kalender Hijri) abi (panggilan untuk ayah kami) meninggalkan kita semua. Serasa baru kemarin ketika kita semua dengan beragam rasa berkecamuk menjaga abi dirawat di ruang ICU RS Mitra Keluarga Bekasi. Dua puluh satu hari abi terbaring tak berdaya, tanpa sadar. Dan kita menunggunya dengan harapan yang kian hari kian menipis, karena tak ada perkembangan yang kita harapkan.

Ruang tunggu ICU itu seolah menjadi rumah kedua kita. Di pagi hari, ketika mata masih terasa sembab karena tidur yang kurang sempurna, kita kakak-beradik berganti tugas, dan melakukan “serah terima uang” yang dibutuhkan untuk membeli obat-obat hari itu. Kita tidak pernah merasa perlu berhitung berapa uang yang sudah habis untuk biaya pengobatan abi. Yang kita inginkan hanyalah satu: kesembuhan abi. Ya, cuma itu: kesembuhan abi!! Apalah artinya uang puluhan juta rupiah bila dibandingkan dengan keberadaan abi, ayah yang sangat kita cintai dan hormati.

Sampai kemudian tibalah saatnya (saat yang akan dialami oleh siapapun mahluk hidup!), ALLAH SWT yang memiliki apapun di alam raya ini (termasuk ruh yang bersemayam di raga abi), mengambil hakNya itu. Nyawa, dan segala yang ada di alam raya, semata milik Nya.

Hari ini, dua tahun yang lalu …..
INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI ROJIUUN !!

Tentu, tak akan pernah pupus kenangan-kenangan kita bersama abi. Kenangan yang tiap kali singgah di kalbu kita makin menguatkan rasa sayang kita kepadanya. Kenangan yang betul-betul mengungkapkan rasa kehilangan yang sangat dalam. Kenangan yang akan terus menempatkan abi di serambi hati kita.

Abi!
Doa kami, anak-anakmu, murid-muridmu, senantiasa tak pernah hilang dalam setiap ucap. Doa yang terus menjembatani kita, sampai kemudian saatnya tiba, kami semua menyusulmu ke pangkuan Ilahi.

Semoga ALLAH SWT senantiasa merahmati abi di kubur yang kian lapang ……

Sebuah Foto Lama: Abi duduk di sebelah kanan SYEIKH YASSIN ALFADANI, ketiga dari kanan.