TELEVISI
30 January, 2005Dulu waktu kecil televisi adalah barang mewah. Hanya keluarga tertentu saja yang memilikinya. Bila ingin menonton TV kita harus rela bersandar di balik jendela kaca rumah tetangga yang memilikinya. Kadang tirai jendela itu tidak dibuka sepenuhnya. Nyamuk …? Jangan ditanya lagi! Suara televisi seringkali ditingkahi bunyi telapak tangan menampar nyamuk yang menggigit.
Saya biasa menumpang nonton di rumah pak camat di depan rumah. Bila tirainya tidak dibuka, walau jendela sudah diketuk berkali-kali, bersama-sama dengan teman lain saya memilih sebuah rumah lain agak sedikit jauh dari situ. Abi (panggilan ayah saya) hanya memberi izin menonton sampai jam 20.00 saja. Setelah itu, seramai apapun acaranya, saya harus pulang. Kalau tidak pasti ada orang suruhan abi memaksa saya pulang.
Ketika saya duduk di kelas 5 barulah keluarga kami diberi cukup rezeki untuk membeli sebuah televisi. Sebuah kotak kecil berukuran 14 inchi yang hanya bisa mamancarkan gambar hitam putih.
Sekarang ……
Televisi cukup besar di ruang tengah itu hampir tidak pernah ditonton. Pembantu dan ibu mertua saya lebih senang menonton televisi di ruang keluarga lain. Ada sebuah Sony 21 inchi di sana. Hirzy, anak saya yang sulung (bila sedang tidak pulang ke tempat kosnya) menonton televisi di komputernya. Begitu juga, Tidy, anak kedua saya. Dia lebih suka menikmati acara televisi di kamarnya. Sedang Hilly, anak saya yang ketiga, waktu sunatan kemarin minta dihadiahi tv yang harus diletakkan di kamarnya.
Saya jadi teringat ketika saya menonton tv bersandar di jendela rumah tetangga sambil sibuk mengusir nyamuk …..
