This is a backup of www.desa32.com. Feel free to click it.

ISENG

27 February, 2005

Iseng nomor 1.
Tanggal Lahir

Ambil Kalkulator!
Ketik tanggal lahir anda, kemudian :
dikalikan 4, ditambah 13, dikalikan 25, dikurangi 200, ditambah Bulan lahir anda, dikalikan 2, dikurangi 40, dikalikan 50, ditambah dua digit terakhir dari tahun lahir anda terakhir dikurangi 10.500.

Maka anda akan menemukan suatu angka yang unik ! ! !

——
Iseng nomor 2.
Kita Berdua Masuk Surga

SEORANG lelaki yang pendek dan buruk rupanya suatu hari duduk-duduk bersama istrinya yang sangat cantik. Si lelaki tak berkedip memandang wajah istrinya yang cantik jelita. Agak tersipu-sipu, sang istri pun berkata, “Kau ini kenapa sih, kok dari tadi memandangiku saja?”

“Kulihat wajahmu,” jawab si suami, “setiap hari kok semakin cantik saja. Maka setiap kali aku melihatmu, semakin bertambah syukurku.”

“Ya,” kata si istri, “dan kita berdua nanti akan masuk surga.”

“Lho, darimana kau tahu?”

“Bukankah hamba yang bersyukur dan hamba yang bersabar akan masuk surga. Kau bersyukur karena mendapat anugerah istri seperti aku. Sedangkan aku bersabar mendapat cobaan berupa suami seperti kau.”

Catatan: diambil dari milis.

MEUTIA

22 February, 2005


Hari ini Wartawati Metro TV Meutia Hafid dan camerawan Budhiyanto dibebaskan di Irak. Syukur alhamdulillah. Beberapa hari ini di setiap sholat saya selalu menambah doa saya untuk kebebasan mereka.

Saya mengenal Meutia di studio MetroTV beberapa tahun yang lalu ketika dalam acara E-Life Style Roy Suryo mengajak saya membahas soal internet dilihat dari kacamata dunia pesantren. Waktu itu Meutia rasanya baru menjadi wartawati junior di stasiun TV itu. Selepas acara, kami mengobrol dengan producer acara (Bung Abeng ?) dan beberapa rekan lain. Di situ kami berkenalan. Tidak banyak yang kami bincangkan. Cenderung hanya basa-basi saja. Tetapi saya senang bisa berkenalan dengannya.

Pertemuan kedua dengannya terjadi di sebuah acara yang antara lain diadakan oleh APJII di gedung Dik
nas: Sumpah “Internet” Pemuda beberapa tahun yang lalu (2000 ?). Saya menghampirinya, dan berucap salam. Saya tanyakan kabar dan apakah dia masih mengingat saya. Ternyata dia memang masih mengingat saya, dan menanyakan kegiatan saya di Yayasan. Nama yayasan pun dengan baik masih diingatnya.

Pertemuan ketiga (saya lupa-lupa ingat) kalau tidak salah di sekretariat APJII di Gedung Cyber. Waktu itu saya masih agak sering ke sana. Pun pertemuan ini tidak terlalu lama, karena masing-masing kami punya urusan sendiri-sendiri.

Setelah itu saya tidak pernah berjumpa lagi. Cuma tentu saja saya hampir selalu bisa memandanginya selagi dia bertugas di Metro TV.

Selamat merasakan kebebasan, Meutia! Saya bangga pernah mengenal anda. Jangan pernah takut menempuh resiko!!!

CDMA …

21 February, 2005

Memimpikan ada hotspot di Bekasi, di mana saya bisa surfing dengan laptop atau PDA yang dilengkapi wifi agaknya masih terlalu jauh dari kenyataan. Barangkali baru 10 tahun lagi kita bisa menikmati teknologi seperti ini di Bekasi.

Lalu apa yang harus saya lakukan agar saya bisa menggunakan laptop saya surfing selagi tidak ada akses telepon? Jawabannya sederhana dan relatif tidak mahal: pakai HP CDMA. Maka meski tanpa rencana sebelumnya saya mengajak Hirzy dan Hilly ke ManggaDua untuk mencari-cari HP berbasis cdma. Awalnya saya mau cari yang bekas saja. Tetapi karena selisih yang tidak terlalu jauh saya memutuskan membeli yang baru. Pilihan jatuh pada Nokia 6015.

Maka bertambahlah tagihan credit card saya untuk bulan depan …. :)

Operator yang saya pilih StarOne, karena mereka menyediakan akses internet berbiaya flat sebesar Rp. 200.000,00 perbulan. Saya membeli prepaidnya terlebih dahulu untuk percobaan seharga Rp. 50.000. Untuk perbandingan saya membeli juga Kartu Perdana Telkomfleksi, seharga Rp. 40.000 untuk pulsa Rp. 50.000.

Sesampai di rumah saya langsung set kabel data DKU 5 yang alhamdulillah berjalan dengan lancar meski kabel itu agaknya bukan original (harganya hanya Rp. 150.000). Maka berselancarlah saya dengan kecepatan yang lumayan bagus, baik dengan StarOne maupun dengan Telkomfleksi.

Saya sedang berfikir-fikir untuk berhenti berlangganan ADSL Speedy. Betapa tidak ?!! Speedy berhasil menguras hampir sejuta rupiah dari kantong saya bulan ini. :(

A Special Thing In My Life

18 February, 2005

There is surely a special thing that we hardly forget in our life. For me, there are many things like that. The one is when I told my allahyarham Abi (father) that I wanted to marry a girl, asked his blessing, and begged him to propose her.

“I know that you almost always lead the meeting in your organization, so I believe you have enough abilty to speak. Why don’t you do it yourself”, that was what Abi replied.

“Do I myself have to ask the girl’s father that I want his daughter to be my wife?”, I asked him.

“Yes, be a man! Do it yourself. Of course I will come to the family of your wife-to-be, but later, just to discuss the time of the ceremony”.

This is really a challenge. “Ok … Give me some Doa’s, then. I’ll do it.”

A few days later, accompanied by my sister Farha, my wife-to-be and I went to Klampok Banjar Negara, her town. And what an experience!!! I had never had a difficulty in expressing my thought before, but that time I had to arrange my words so carefully that I mayself felt strange to my speaking. My father-in-law-to-be just smiled, and understood everything, and thank God, he was ok with everything.

Several years later, when I had to do it again (but this time it was for my brother Dhiya) I felt so confidence in expressing everything.

PS:
In the commemoration of Allahyarham Bapak Darmosumitro, my father-in-law …..

Long Long Week End

12 February, 2005

Behind our Ciater house

Minggu ini libur panjang sekali. Ada libur Tahun Baru Imlek (Rabu, 9 Februari), libur Tahun Baru Hijrah (Kamis, 10 Februari), dan ada libur “Harpitnas” :) (Jumat, 11 Februari). Jadilah kami sekeluarga (minus HILLY yang ada kegiatan eks-kul di sekolahnya) mengunjungi rumah keluarga di Ciater Highland Resort. Hampir dua bulan saya tidak ke sini. Selalu saja ada hal yang tidak bisa ditinggalkan setiap hari Sabtu dan Minggu yang membuat saya terpaksa “terpaku” di Bekasi, meski kepala terasa sudah sangat jenuh dan memerlukan refreshing.

Berangkat hari Rabu pagi, jalan Toll Cikampek amat sangat padat. Di ahir jalan toll kami tidak bisa keluar di gerbang Sadang. Polantas menutupnya karena kemacetan yang terjadi di pintu keluar. Kami langsung menuju tollgate Cikopo. Jalan Cikopo - Sadang (yang hampir tak pernah saya lalui setahun belakangan ini) untungnya relatif lancar. Namun karena volume yang sangat padat saya hampir tidak bisa mengembangkan kecepatan yang optimal. Tiga jam (biasanya hanya sekitar 2 jam saja) di perjalanan barulah kami sampai di kawasan Ciater Highland Resort.

Kamis adalah hari untuk makan-dan-tidur (dan sholat tentu saja). Anak-anak sibuk dengan PS2-nya. Sesekali hujan turun sambil membawa kabut. Sejak kawasan Puncak sudah tak terperikan lagi macet dan padatnya, kabut Ciater terasa lebih nyaman dinikmati. Di kejauhan ujung puncak Tangkuban Perahu samar-samar tampak dengan megahnya, sambil menaburkan aroma belerang yang khas.

Hari Jumat kami putar-putar kota Bandung memuaskan nafsu “sang Nyonya Besar” berbelanja di seputaran Dago. Saya paling malas menemaninya belanja. Jadi saya memilih ngobrol dengan seorang Tukang Es Krim di tempat parkir yang belakangan saya amati mengalami kelainan fisik: refleks-nya tidak terkendali. Dia bisa serta-merta memasang kuda-kuda, mencibir, atau mengangkat kakinya seperti baru saja menginjak bara api. Kasihan juga!

“Saya pernah dimaki-maki seorang ibu, dan hampir ditinju suaminya, karena tiba-tiba saya menjulurkan lidah saya ke mereka. Untung saya keburu minta maaf …..”, katanya ringan dengan logat sunda yang kental.

Tujuan berikutnya adalah Jalan Martadinata, sebuah toko loak yang sedang trendy: “BABE”, it stands for barang bekas. Tidy got a guitar for only 185 ribu rupiah. Gitar bermerk YAMAHA yang masih sangat mulus itu mungkin berharga lebih dari Satu Juta rupiah bila baru. I don’t know for sure ..

Setelah putar-putar tanpa tujuan sore harinya kami kembali ke Ciater.

Catatan: Karena terjebak macet di Cihampelas saya tidak sempat sholat Jumat. Hirzy menghibur saya: “Musaffir itu boleh kok enggak Jumatan.”