
Minggu ini libur panjang sekali. Ada libur Tahun Baru Imlek (Rabu, 9 Februari), libur Tahun Baru Hijrah (Kamis, 10 Februari), dan ada libur “Harpitnas”

(Jumat, 11 Februari). Jadilah kami sekeluarga (minus HILLY yang ada kegiatan eks-kul di sekolahnya) mengunjungi rumah keluarga di Ciater Highland Resort. Hampir dua bulan saya tidak ke sini. Selalu saja ada hal yang tidak bisa ditinggalkan setiap hari Sabtu dan Minggu yang membuat saya terpaksa “terpaku” di Bekasi, meski kepala terasa sudah sangat jenuh dan memerlukan refreshing.
Berangkat hari Rabu pagi, jalan Toll Cikampek amat sangat padat. Di ahir jalan toll kami tidak bisa keluar di gerbang Sadang. Polantas menutupnya karena kemacetan yang terjadi di pintu keluar. Kami langsung menuju tollgate Cikopo. Jalan Cikopo - Sadang (yang hampir tak pernah saya lalui setahun belakangan ini) untungnya relatif lancar. Namun karena volume yang sangat padat saya hampir tidak bisa mengembangkan kecepatan yang optimal. Tiga jam (biasanya hanya sekitar 2 jam saja) di perjalanan barulah kami sampai di kawasan Ciater Highland Resort.
Kamis adalah hari untuk makan-dan-tidur (dan sholat tentu saja). Anak-anak sibuk dengan PS2-nya. Sesekali hujan turun sambil membawa kabut. Sejak kawasan Puncak sudah tak terperikan lagi macet dan padatnya, kabut Ciater terasa lebih nyaman dinikmati. Di kejauhan ujung puncak Tangkuban Perahu samar-samar tampak dengan megahnya, sambil menaburkan aroma belerang yang khas.
Hari Jumat kami putar-putar kota Bandung memuaskan nafsu “sang Nyonya Besar” berbelanja di seputaran Dago. Saya paling malas menemaninya belanja. Jadi saya memilih ngobrol dengan seorang Tukang Es Krim di tempat parkir yang belakangan saya amati mengalami kelainan fisik: refleks-nya tidak terkendali. Dia bisa serta-merta memasang kuda-kuda, mencibir, atau mengangkat kakinya seperti baru saja menginjak bara api. Kasihan juga!
“Saya pernah dimaki-maki seorang ibu, dan hampir ditinju suaminya, karena tiba-tiba saya menjulurkan lidah saya ke mereka. Untung saya keburu minta maaf …..”, katanya ringan dengan logat sunda yang kental.
Tujuan berikutnya adalah Jalan Martadinata, sebuah toko loak yang sedang trendy: “BABE”, it stands for barang bekas. Tidy got a guitar for only 185 ribu rupiah. Gitar bermerk YAMAHA yang masih sangat mulus itu mungkin berharga lebih dari Satu Juta rupiah bila baru. I don’t know for sure ..
Setelah putar-putar tanpa tujuan sore harinya kami kembali ke Ciater.
Catatan: Karena terjebak macet di Cihampelas saya tidak sempat sholat Jumat. Hirzy menghibur saya: “Musaffir itu boleh kok enggak Jumatan.”