Doktor
19 March, 2005Kemarin pak Muhammad Kamil Tadjudin mendapatkan gelar Doctor Honoris Causa dalam bidang Etika Kedokteran dari UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta. Dalam pidato ilmiahnya Professor DR. dr. M.K. Tadjudin mengemukakan bahwa Islam melarang Euthanasia atau tindakan mematikan orang untuk meringankan penderitaannya.
UIN Syahid tentu saja sudah amat sangat mempertimbangkan pemberian gelar dotor itu, dan saya yakin beliau memang tokoh yang pantas mendapat gelar tersebut.
Selamat, pak!
Dalam hal gelar Doktor ini saya jadi teringat dengan sebuah surat yang ditujukan kepada saya dari sebuah lembaga tertentu di Jakarta. Isinya Universitas “bla-bla-bla” di Amerika Serikat berkenan memberikan saya gelar Doktor karena kiprah saya memimpin sebuah yayasan pendidikan di Bekasi. Untuk itu saya diminta menyiapkan uang beberapa belas juta rupiah untuk biaya ini-itu-nya.
Sambil berkaca di kaca spion mobil, saya memandangi wajah saya sambil mematut-matut diri, membayangkan kuncir topi dipindahkan pada sebuah acara wisuda. Betapa gagahnya !! Nama saya pun berubah menjadi: DR. M. Ihsan Muhadjirin.
ASTAGHFIRULLOH!!!!!!! Semudah itu kah …?
Doctor Honoris Causa adalah sebuah gelar kehormatan yang sangat agung. Hanya lembaga pendidikan tinggi yang krdibel saja yang sepatutnya memberikan gelar itu kepada seseorang. Itu pun tentu saja setelah mempertimbangkan amat-banyak hal. Bila ada suatu lembaga yang memberikan gelar itu hampir kepada setiap orang dengan biaya tertentu, dan si penerima gelar itu lantas merasa berbahagia menerimanya, saya fikir orang-orang itu sudah “sakit”. Sakit Budaya parah yang memandang kemuliaan orang hanya dari bungkusnya, bukan isi!!
Saya teringat pengalaman seorang sahabat yang setengah mati berjuang untuk memperoleh gelar Doktor-nya. Selepas menyelesaikan S1, dia berjuang sangat keras mendapatkan beasiswa dari sebuah institusi di Serpong untuk melanjutkan jenjang pendidikan Master di sebuah Universitas terkenal di Amerika Serikat. Dan dia berhasil mendapatkannya! Di sana perjuangannya tidak kalah heroiknya. Dia harus mengirit-ngirit bea siswa yang diterimanya dengan amat susah payah. Untuk tambahan uang dia rela menjadi tukang cuci-piring di sebuah restoran. Mengharap uang tambahan dari orangtuanya sama sekali tidak terlintas, mengingat dia sadar benar kondisi keuangan ayahnya.
Meski otaknya bagus, tak kurang-kurang peningnya dia menghadapi kuliah dan tugas-tugas lain yang harus dia “lahap”. Ini berlangsung dari jam ke hari, dari hari ke minggu, dari minggu ke bulan. Selama bertahun-tahun!!!
Setelah mendapatkan gelar Master, seorang professor-nya menawarkan dia melanjutkan pendidikan ke jenjang berikut. Baru di saat inilah, karena dia mendapatkan beasiswa lain yang tentu saja jauh lebih besar, dia merasakan hidupnya agak lebih lapang. Diajaknya isteri dan seorang anaknya yang sudah amat sangat lama mengikhlaskan suaminya meninggalkannya.
Lalu …… saya yang fakir ini bisa mendapatkan gelar Doktor hanya dengan menandatangani selembar cek belasan juta ????
Betapa hina-dinanya saya bila menerima tawaran itu ……!!