This is a backup of www.desa32.com. Feel free to click it.

Doktor

19 March, 2005

Kemarin pak Muhammad Kamil Tadjudin mendapatkan gelar Doctor Honoris Causa dalam bidang Etika Kedokteran dari UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta. Dalam pidato ilmiahnya Professor DR. dr. M.K. Tadjudin mengemukakan bahwa Islam melarang Euthanasia atau tindakan mematikan orang untuk meringankan penderitaannya.

UIN Syahid tentu saja sudah amat sangat mempertimbangkan pemberian gelar dotor itu, dan saya yakin beliau memang tokoh yang pantas mendapat gelar tersebut.

Selamat, pak!

Dalam hal gelar Doktor ini saya jadi teringat dengan sebuah surat yang ditujukan kepada saya dari sebuah lembaga tertentu di Jakarta. Isinya Universitas “bla-bla-bla” di Amerika Serikat berkenan memberikan saya gelar Doktor karena kiprah saya memimpin sebuah yayasan pendidikan di Bekasi. Untuk itu saya diminta menyiapkan uang beberapa belas juta rupiah untuk biaya ini-itu-nya.

Sambil berkaca di kaca spion mobil, saya memandangi wajah saya sambil mematut-matut diri, membayangkan kuncir topi dipindahkan pada sebuah acara wisuda. Betapa gagahnya !! Nama saya pun berubah menjadi: DR. M. Ihsan Muhadjirin.

ASTAGHFIRULLOH!!!!!!! Semudah itu kah …?

Doctor Honoris Causa adalah sebuah gelar kehormatan yang sangat agung. Hanya lembaga pendidikan tinggi yang krdibel saja yang sepatutnya memberikan gelar itu kepada seseorang. Itu pun tentu saja setelah mempertimbangkan amat-banyak hal. Bila ada suatu lembaga yang memberikan gelar itu hampir kepada setiap orang dengan biaya tertentu, dan si penerima gelar itu lantas merasa berbahagia menerimanya, saya fikir orang-orang itu sudah “sakit”. Sakit Budaya parah yang memandang kemuliaan orang hanya dari bungkusnya, bukan isi!!

Saya teringat pengalaman seorang sahabat yang setengah mati berjuang untuk memperoleh gelar Doktor-nya. Selepas menyelesaikan S1, dia berjuang sangat keras mendapatkan beasiswa dari sebuah institusi di Serpong untuk melanjutkan jenjang pendidikan Master di sebuah Universitas terkenal di Amerika Serikat. Dan dia berhasil mendapatkannya! Di sana perjuangannya tidak kalah heroiknya. Dia harus mengirit-ngirit bea siswa yang diterimanya dengan amat susah payah. Untuk tambahan uang dia rela menjadi tukang cuci-piring di sebuah restoran. Mengharap uang tambahan dari orangtuanya sama sekali tidak terlintas, mengingat dia sadar benar kondisi keuangan ayahnya.

Meski otaknya bagus, tak kurang-kurang peningnya dia menghadapi kuliah dan tugas-tugas lain yang harus dia “lahap”. Ini berlangsung dari jam ke hari, dari hari ke minggu, dari minggu ke bulan. Selama bertahun-tahun!!!

Setelah mendapatkan gelar Master, seorang professor-nya menawarkan dia melanjutkan pendidikan ke jenjang berikut. Baru di saat inilah, karena dia mendapatkan beasiswa lain yang tentu saja jauh lebih besar, dia merasakan hidupnya agak lebih lapang. Diajaknya isteri dan seorang anaknya yang sudah amat sangat lama mengikhlaskan suaminya meninggalkannya.

Lalu …… saya yang fakir ini bisa mendapatkan gelar Doktor hanya dengan menandatangani selembar cek belasan juta ????

Betapa hina-dinanya saya bila menerima tawaran itu ……!!

Beranikah ?

12 March, 2005

Dalam sebuah ceramah agama saya mendengar bahwa bila kita mengetahui sebuah kemunkaran, ketidakadilan atau kejahatan, kita dapat melawannya dengan salah satu dari 3 hal: dengan power yang kita miliki; bila tidak mampu, dengan mulut kita, artinya kita menasehati yang bersangkutan; dan bila tidak mampu juga, kita melawannya dalam hati, maksudnya kita tidak membenarkan kemunkaran itu.

Bila kemunkaran sudah merebak kemana-mana, dan kita tentu saja tidak mampu melawan semuanya, maka yang paling dulu harus dilawan adalah kemunkaran yang paling dekat dengan kita.

Dalam hal AMBALAT semua rakyat Indonesia tentu saja berpendapat sama: Malaysia telah melakukan kemunkaran terhadap kita. Kita tentu saja harus melawannya.

Namun barangkali perlu juga kita renungi bila “dengan semangat 45″ kita akan melawan kemunkaran Malaysia itu, apakah kita mempunyai cukup keberanian untuk melawan kemunkaran di sekitar kita?

Misalnya:

Beranikah kita mendatangi kantor pembuatan atau perpanjangan SIM / STNK untuk mengamati bagaimana petugasnya bekerja; lalu begitu kita melihat ada kemunkaran di sana, langsung dengan semangat keberanian kita teriaki dan tangkap pelakunya?

Beranikah kita mendatangi persimpangan-persimpangan jalan dan memperhatikan begitu banyak preman berseragam meminta uang kepada supir atau kondekturnya, kemudian segera meneriaki dan menangkap pelakunya?

Beranikah kita mendatangi kantor-kantor pengurusan izin dan kita amati apa yang sesungguhnya terjadi di sana, lalu seketika kita melihat ada ketidak-beresan kita tangkap pelakunya ?

Beranikah kita menangkap pegawai negeri yang nyata-nyata memiliki pola hidup sangat mewah, yang tidak mungkin dapat dipenuhi dengan penghasilannya selaku pegawai negeri, dan karena itu kita yakin benar pejabat itu menggerogoti uang rakyat dalam jumlah tak terperikan?

Beranikah kita menangkap oknum polisi yang di dalam pekerjaannya justru menjadi penjahat, bukan melawan penjahat (contoh untuk hal ini saya rasa tidak perlu dibeberkan di sini) ?

Beranikah kita ……………….. (isi sendiri)
Beranikah kita ……………….. (isi sendiri)

Saya mempersilakan anda untu menjawabnya sendiri.

IDA …

4 March, 2005

Bayi mungil berusia beberapa jam itu diam tak bergerak. Allah Sang Maha Memiliki sudah mengambil ruhnya segera setelah ia keluar dari rahim ibunya.

Sang bayi berada dalam kandungan ibunya sekitar 7 bulan, dan Takdir Allah menentukan dia harus segera dikeluarkan dari sana. Tiga orang dokter ahli mempunyai pendapat profesional yang sama: ada kelainan serius pada paru-paru sang bayi. Di samping itu ada sebuah tumor yang membesar di sekitar paru-paru itu.

Ida (salah seorang adik saya, ibu sang bayi) mengusap air matanya memandangi bayi dalam pangkuannya itu. Dia tampaknya sudah tidak mempunyai kata-kata lagi setelah beberapa hari menangis. Saya tak kuat menahan airmata, dan segera keluar ruangan. Isteri saya, Ummi (panggilan buat ibu saya), Dhiya (adik saya) dan isterinya Shinta, yang menemani di pagi buta itu terisak perlahan. Mursyidi, suami Ida, segera mengambil sang bayi dari gendongan isterinya untuk dibawa pulang dan dimakamkan. Wajahnya kelihatan sangat capek dan lelah, dan tentu saja tertekan berat menghadapi kenyataan ini. Tetapi dia tampak tabah. Ada sisa air mata di sudut matanya, yang disekanya beberapa menit yang lalu.

Kullu nafsin zaaiqotul mauut. Inna Lillahi wa inna ilaihi roojiuun.

Bayi yang sama sekali belum memiliki dosa secuil pun itu pastinya insha Allah akan menghuni Jannah kelak. Amiin!!