Guru
23 May, 2005Menurut sebuah riwayat Sayyidina Ali RA sewaktu menjadi khalifah pernah menghentikan rapat penting dengan para petinggi negara hanya untuk menimang-nimang seorang anak yang kebetulan terlihat oleh beliau. Seorang petinggi kekhalifahan bertanya kepada beliau: “Ya khaliifah, mengapa rapat sepenting ini harus ditunda hanya untuk menimang seorang anak?”.
Sayyidaina Ali RA menjawab, “Almarhum ayah anak ini adalah guru saya. Karena beliau sudah wafat saya tidak bisa lagi melayani dan menghormati beliau. Jadi karenanya saya tumpahkan seluruh rasa hormat saya itu kepada anaknya, si kecil ini.”
. . . . . . . . . . .
Tadi siang bersama Ummi (ibu) dan isteri, saya berkesempatan menghadiri acara pernikahan putri dari K.H. Hasan Azhari di Mampang Perapatan. Beliau pernah lama menuntut ilmu di Makkah Al Mukarromah pada kurun waktu 50 ~ 60 an, berguru kepada Allahyarham Syeikh Yassin Al Fadani di Darul Ulum Addiniyah. Almarhum abi (ayah) saya, K.H. M. Muhadjirin Amsar Addari, pun pernah bermukim cukup lama di sana, dan bahkan pernah menjadi guru di Darul Ulum Addiniyah Makkah. Di Makkah almarhum abi benar-benar “tidur satu bantal makan satu piring” dengan K.H. Hasan Azhari, dan beberapa orang sahabat lain, seperti Almarhum K.H. Ishak Salim Gandaria dan Almarhum K.H. Abdul Hamid Cipete.
Setelah mengucapkan salam, pak K.H. Hasan Azhari agaknya tidak langsung mengenali saya karena penglihatan beliau yang sudah mulai jauh berkurang. Ketika saya sebut nama saya yang lengkap sambil menyebut “dari Bekasi”, beliau langsung merangkul saya dan …… mencium tangan saya! Ya, mencium tangan saya!. Dalam budaya Betawi cium-tangan adalah pengungkapan rasa hormat yang dalam. Tentu saja ini sangat mengagetkan saya. Refleks saya menarik tangan saya karena merasa sangat tidak patut menerima penghormatan sedemikian. Beliau lalu mengatakan kepada hadirin yang ada di sekitar kami: “Ini Ihsan, putra dari Syeikh M. Muhadjirin Bekasi. Ini anak guru saya !!”. Begitu kira-kira ucapan beliau, yang membuat saya tersipu.
Mata beliau tampak agak berlinang, mungkin mengingat saat-saat menuntut ilmu puluhan tahun yang lalu. Dan meskipun badan beliau sudah mulai ringkih karena usia, dengan tertartih-tatih beliau menyiapkan makanan, minuman, dan menyediakan segala sesuatunya di meja.
“Jangan repot-repot, pak Kiai!”, kata saya, merasa “kikuk” dilayani seperti itu.
Beliau hanya tertawa perlahan. “Enggak apa-apa. Jangan lupa, antum anak guru saya.”
Masya Allah!! Sedemikian besar rasa hormat beliau kepada guru!
Dan saya teringat dengan kisah Sayyidina Ali RA di atas ……
Foto beliau KLIK DI SINI.