This is a backup of www.desa32.com. Feel free to click it.

Guru

23 May, 2005

Menurut sebuah riwayat Sayyidina Ali RA sewaktu menjadi khalifah pernah menghentikan rapat penting dengan para petinggi negara hanya untuk menimang-nimang seorang anak yang kebetulan terlihat oleh beliau. Seorang petinggi kekhalifahan bertanya kepada beliau: “Ya khaliifah, mengapa rapat sepenting ini harus ditunda hanya untuk menimang seorang anak?”.

Sayyidaina Ali RA menjawab, “Almarhum ayah anak ini adalah guru saya. Karena beliau sudah wafat saya tidak bisa lagi melayani dan menghormati beliau. Jadi karenanya saya tumpahkan seluruh rasa hormat saya itu kepada anaknya, si kecil ini.”

. . . . . . . . . . .

Tadi siang bersama Ummi (ibu) dan isteri, saya berkesempatan menghadiri acara pernikahan putri dari K.H. Hasan Azhari di Mampang Perapatan. Beliau pernah lama menuntut ilmu di Makkah Al Mukarromah pada kurun waktu 50 ~ 60 an, berguru kepada Allahyarham Syeikh Yassin Al Fadani di Darul Ulum Addiniyah. Almarhum abi (ayah) saya, K.H. M. Muhadjirin Amsar Addari, pun pernah bermukim cukup lama di sana, dan bahkan pernah menjadi guru di Darul Ulum Addiniyah Makkah. Di Makkah almarhum abi benar-benar “tidur satu bantal makan satu piring” dengan K.H. Hasan Azhari, dan beberapa orang sahabat lain, seperti Almarhum K.H. Ishak Salim Gandaria dan Almarhum K.H. Abdul Hamid Cipete.

Setelah mengucapkan salam, pak K.H. Hasan Azhari agaknya tidak langsung mengenali saya karena penglihatan beliau yang sudah mulai jauh berkurang. Ketika saya sebut nama saya yang lengkap sambil menyebut “dari Bekasi”, beliau langsung merangkul saya dan …… mencium tangan saya! Ya, mencium tangan saya!. Dalam budaya Betawi cium-tangan adalah pengungkapan rasa hormat yang dalam. Tentu saja ini sangat mengagetkan saya. Refleks saya menarik tangan saya karena merasa sangat tidak patut menerima penghormatan sedemikian. Beliau lalu mengatakan kepada hadirin yang ada di sekitar kami: “Ini Ihsan, putra dari Syeikh M. Muhadjirin Bekasi. Ini anak guru saya !!”. Begitu kira-kira ucapan beliau, yang membuat saya tersipu.

Mata beliau tampak agak berlinang, mungkin mengingat saat-saat menuntut ilmu puluhan tahun yang lalu. Dan meskipun badan beliau sudah mulai ringkih karena usia, dengan tertartih-tatih beliau menyiapkan makanan, minuman, dan menyediakan segala sesuatunya di meja.

“Jangan repot-repot, pak Kiai!”, kata saya, merasa “kikuk” dilayani seperti itu.
Beliau hanya tertawa perlahan. “Enggak apa-apa. Jangan lupa, antum anak guru saya.”

Masya Allah!! Sedemikian besar rasa hormat beliau kepada guru!
Dan saya teringat dengan kisah Sayyidina Ali RA di atas ……

Foto beliau KLIK DI SINI.

Oom

16 May, 2005

Waktu saya kecil dulu nama penggilan saya adalah “I’yah”. Entah mengapa sampai demikian jadinya. Jauh sekali dari nama saya yang sesungguhnya: Ihsan. Memasuki kurun waktu sekolah dasar panggilan saya berubah menjadi: “Isan”, huruf “h” dari nama saya hilang.

Pada masa awal popularitas citizen band di Indonesia dan saya selalu menghabiskan waktu mengudara di sana, rekan-rekan cbers memanggil saya “Doni”. Mereka memanggil saya demikian karena rupanya saya dianggap cukup sering “mengerjai” mereka. Doni adalah akronim “doyan nipu”. Seorang teman yang berkacamata tebal harus rela dipanggil “FANBO”, plesetan dari “pantat botol”. Rupanya ketebalan kacamatanya sudah dianggap sama dengan ketebalan bagian bawah dari botol. Panggilan Doni ini bahkan bertahan bertahun-tahun kemudian.

Manakala para cbers diwadahi organisasi Radio Antar Penduduk Indonesia dan saya mendapatkan callsign JZ09DPM, panggilan mesra saya berubah cukup “eksotis” : DUKUN. Suffix callsign saya yang mestinya dieja Delta Papa Mike diplesetkan menjadi Dukun Paling Manjur. Dari situlah pangilan DUKUN bermula.

Sekitar tahun 1984, ketika saya menjadi anggota ORARI, teman-teman Orari memangil saya dengan panggilan “VI”. Ini ada kaitannya juga dengan callsign saya: YD1KKV (belakangan naik tingkat menjadi YC1KKV). “Wai di wan kei kei vi” tentu saja terlalu panjang. Maka dipanggilah saya dengan panggilan “Vi”.

Dan hari ini ada sekitar 14 orang teman anak saya berkumpul di Ciater ini. Hampir semuanya memanggil saya Oom. Agak asing juga rasanya telinga ini dengan panggilan itu. Saya hampir tidak pernah dipanggil Oom, karena keponakan saya menggunakan panggilan “Nci” kepada pamannya.

Ciater, 14 Mei 2005.

Dell

12 May, 2005

I haven’t used a laptop since I gave it to Hirzy, my oldest son, several months ago. But today, I can use a laptop again. I buy this one because it is very light. I can easily take it with my single hand. A heavy laptop doesn’t fit me at all. I just hope that I can do something important and useful with this laptop.

Alhamdulillah.

Cipularang

8 May, 2005

Allah membuat mahlukNya berpasang-pasangan. Ada siang ada malam, ada terang ada gelap, ada suka ada duka, dan sebagainya. Boleh dikatakan bila di satu sisi ada sesuatu yang menyenangkan terjadi, di sisi lain sesuatu itu menjadi tidak menyenangkan. Seperti dua sisi mata uang, selalu bertolak belakang.

Ketika hujan mulai turun seorang tukang es bisa jadi menarik nafas panjang mengkhawatirkan dagangannya. Tetapi di sisi lain anak-anak yang menyewakan payung di pintu keluar pusat perbelanjaan pasti merasa senang, karena akan datang rezeki dari orang yang menyewa payungnya. Truk sampah yang melintas di depan kita pasti membuat kita dongkol karena baunya. Tetapi truk itu ditunggu oleh banyak orang di tempat penampungan sampah. Kita mengeluh ketika kita sakit, tetapi dokter akan memperoleh rezeki karenanya, dan industri obat menjadi berjalan karena obatnya kita beli. Seorang penggali kubur boleh jadi mengucap alhamdulillah ketika ada kematian, padahal kematian itu menimbulkan ratapan memilukan bagi keluarga yang ditinggalkan. Begitu seterusnya …

Dan saya amat senang ketika Tol Cipularang (Cikampek - Purwakarta - Padalarang) dibuka untuk umum. Saya tidak perlu mengalami kemacetan berjam-jam di kawasan Purwakarta. Waktu tempuh ke Bandung dari Bekasi bisa ditekan sangat signifikan; saya hanya memerlukan waktu sekitar 1 jam setengah untuk tiba di pintu tol Pasteur (hampir sama dengan waktu tempuh dari rumah saya ke Manggadua Mall!!).

Tetapi seorang rekan Orari saya di Purwakarta mengeluh. Usaha restorannya yang selalu ramai dikunjungi pelanggan kini menjadi sepi, karena mereka sudah tidak lagi melewati restorannya itu. Dan makin banyak pula penduduk Bandung yang menggerutu panjang-pendek karena kemacetan makin menjadi-jadi.

Hidup memang seperti keping uang …………………….

Foto-foto Cipularang klik di s i n i.

Linux

4 May, 2005

Sejak menggunakan adsl untuk akses internet di rumah dengan berat hati saya harus meninggalkan Linux karena modem yang dihadiahkan kepada saya, SpeedStream 4060, tidak dikenali di Linux. Saya tentu tidak punya keberanian untuk protes kepada si pemberi yang memberikan modem seperti itu kepada saya. Alangkah tak patutnya! Sudah diberi hadiah protes pula!

Dengan segala kefakiran yang ada saya berusaha “mengenalkan” modem itu supaya bisa dipakai bersama Linux. Saya mencoba googling ke sana ke mari mencari informasi, namun ahirnya saya harus menyerah, dan membiarkan Windows XP dengan “licence ManggaDua” merajalela di PC saya.

Hari ini saya tidak tahan lagi berpisah lama-lama dengan Linux. Meski keuangan saya sedang kurang bagus saya nekad ke Mangga Dua untuk membeli sebuah modem adsl yang bisa saya gunakan bersama-sama Linux saya. Aztech DSL305EU adalah modem yang mempunyai dua interface: usb dan nic. Saya tinggal mencolokkan kabel utp yang tersedia dari NIC di pc saya ke modem itu. Setelah setting sebentar lewat browser, alhamdulillah pc saya dengan mulusnya terkoneksi ke Internet.

Kebetulan pula saya baru saja install Linux Xandros di pc anak saya. Hebat betul distro ini, install-nya betul-betul sudah Windows-like. Kita tinggal pencet “Next” beberapa kali, beres sudah. Tak perlu pula kita mengatur partisi harddisk. Semuanya sudah dilakukan installer Xandros.

Satu hal yang barangkali menjadi kendala buat saya: distro ini dibuat under Debian. Saya tidak terlalu biasa dengan Debian, sehingga saya harus berusaha membiasakan diri. Selama ini saya amat “tenggelam” di Mandrake.

Anyway, thank God! I can explore Linux again …. :)

— Using Firefox in Xandross