Siwak
17 July, 2005
|
Azan-pertama Subuh baru saja usai dikumandangkan di Masjidilharom. Masih ada waktu sangat banyak sebelum waktu sholat tiba. Meski hotel tempat saya menginap amat sangat dekat (Hotel Firdaous Umroh hanya berseberangan jalan dengan Masjidilharoom), saya memutuskan untuk sholatullail dan menunggu waktu Subuh sambil iktikaf. |
Ada banyak keharuan dalam kekhusu’an pada waktu itu. Apalagi manakala mata memandang lurus ke depan, kubus berwarna hitam yang menjadi arah semua muslim sholat itu sangatlah menentramkan hati. Sejumlah besar orang yang tawaf mengitarinya membuat sebuah pemandangan yang sangat khas dan terukir selamanya di dalam hati.
Tiba-tiba ada sebuah colekan di punggung saya. Sebelum sempat menoleh, colekan kedua kembali menyentuh punggung saya. Serta merta saya menoleh dan sebentuk wajah hitam legam itu tersenyum sambil mengucapkan salam. Saya menjawab salamnya sambil juga tersenyum. Tanpa berkata lagi sosok muslim Afrika itu menyerahkan sebuah siwak kepada saya, masih dengan senyum yang tulus. Saya menerimanya sambil mengucap “syukron katsiir”, dan meneruskan zikir saya.
Beberapa detik kemudian tiba-tiba ada desiran aneh agak hangat di tengkuk saya. Sambil mengusap tengkuk dengan telapak tangan tanpa sadar saya menoleh ke belakang ke arah si pemberi siwak tadi. Tidak ada!! Hanya ada muslim Turki yang rata-rata berkulit putih. Saya mencari-cari dengan menyapu semua arah dengan pandangan saya. Tidak ada juga! Mestinya dia belum pergi terlalu jauh, karena baru beberapa detik yang lalu dia menyerahkan siwak kepada saya. Desiran hangat di tengkuk saya kembali terasa.
Kemana dia? Secepat itukah dia menghilang? Atau itu hanya perasaaan saya saja?
Saya menggenggam erat siwak sepanjang sejengkal pemberian orang tadi dengan perasaan beragam ….
