This is a backup of www.desa32.com. Feel free to click it.

Siwak

17 July, 2005
Azan-pertama Subuh baru saja usai dikumandangkan di Masjidilharom. Masih ada waktu sangat banyak sebelum waktu sholat tiba. Meski hotel tempat saya menginap amat sangat dekat (Hotel Firdaous Umroh hanya berseberangan jalan dengan Masjidilharoom), saya memutuskan untuk sholatullail dan menunggu waktu Subuh sambil iktikaf.

Ada banyak keharuan dalam kekhusu’an pada waktu itu. Apalagi manakala mata memandang lurus ke depan, kubus berwarna hitam yang menjadi arah semua muslim sholat itu sangatlah menentramkan hati. Sejumlah besar orang yang tawaf mengitarinya membuat sebuah pemandangan yang sangat khas dan terukir selamanya di dalam hati.

Tiba-tiba ada sebuah colekan di punggung saya. Sebelum sempat menoleh, colekan kedua kembali menyentuh punggung saya. Serta merta saya menoleh dan sebentuk wajah hitam legam itu tersenyum sambil mengucapkan salam. Saya menjawab salamnya sambil juga tersenyum. Tanpa berkata lagi sosok muslim Afrika itu menyerahkan sebuah siwak kepada saya, masih dengan senyum yang tulus. Saya menerimanya sambil mengucap “syukron katsiir”, dan meneruskan zikir saya.

Beberapa detik kemudian tiba-tiba ada desiran aneh agak hangat di tengkuk saya. Sambil mengusap tengkuk dengan telapak tangan tanpa sadar saya menoleh ke belakang ke arah si pemberi siwak tadi. Tidak ada!! Hanya ada muslim Turki yang rata-rata berkulit putih. Saya mencari-cari dengan menyapu semua arah dengan pandangan saya. Tidak ada juga! Mestinya dia belum pergi terlalu jauh, karena baru beberapa detik yang lalu dia menyerahkan siwak kepada saya. Desiran hangat di tengkuk saya kembali terasa.

Kemana dia? Secepat itukah dia menghilang? Atau itu hanya perasaaan saya saja?

Saya menggenggam erat siwak sepanjang sejengkal pemberian orang tadi dengan perasaan beragam ….

Kiswah

8 July, 2005
Dengan berbaris dua saf kami perlahan-lahan memasuki gedung sejuk tempat pembuatan Kiswah. Entah apa perasaan yang berkecamuk di rongga dada melihat secara langsung, hampir tak berjarak, pembuatan kelambu Ka’bah yang akan menyelimuti Ka’bah setelah musim haji berikut.

Tangan-tangan cekatan dari berbagai bangsa menyulam benang emas membentuk kaligrafi yang sangat indah. Dengan rasa penuh haru saya sentuh kain sutra berwarna hitam yang belum selesai dirajut kaligrafinya. Seorang sahabat membisikkan pertanyaan apakah saya masih berwudhu. Saya mengangguk. Saya baru saja berwudhu di Masjid Hudaibiah beberapa waktu sebelumnya. Dengan mengambil miqot di Hudaibiah itu pula saya memulai umroh kali itu.

Kiswah Ka’bah digulung sepertiganya setiap kali mulai memasuki puncak haji, dan jamaah dari berbagai negara mulai berdatangan ke Mekkah. Penggulungan kiswah dilakukan untuk mencegah agar tidak rusak ditarik atau diciumi para jemaah haji yang berkumpul hingga dua juta orang setiap puncak haji.

Kiswah Ka’bah baru diganti pada 9 Dzulhijjah, ketika seluruh jamaah berwukuf di padang Arafah. Pada saat itu bangunan Ka’bah benar-benar akan terbuka, dan pada Idul Adha (10 Dzulhijjah) Ka’bah akan berkiswah baru.

Kiswah terdiri dari lima potong , yaitu empat potong membungkus sisi-sisi Ka’bah, dan sepotong lagi menutupi pintu Ka’bah. Sepertiga bagian atas terdapat sabuk kiswah bertuliskan ayat-ayat Al-Quran. Tinggi Ka’bah sendiri 14 meter dengan panjang dan lebar sisinya 11,28m hingga 12,84m.

Menurut Dr Muhammad Ilyas Abdul, dalam buku Sejarah Mekah, bangunan Ka’bah mempunyai tiga tiang penyangga utama dan atap yang terbuat dari kayu berdiameter 44 cm. Jarak antar tiang tersebut adalah 2,35 Meter.

Di dalam Ka’bah sendiri terdapat sebuah mihrab (tempat sholat), dimana Nabi Muhammad pernah sholat di tempat tersebut.

Sementara Itu tentang sejarah pembangunan Ka’bah, menurut HM Iwan Gayo dalam buku “Pintu Haji dan Umrah” disebutkan pembangunan Kabah berlangsung 10 generasi.

Generasi pertama dilakukan oleh Malaikat generasi ke-2 oleh Nabi Adam, Syist Bin Adam sebagai generasi ke-3. Generasi ke-4 Ka,bah dibangun oleh Nabi Ibrahim dan putranya Ismail.

Kemudian pembangunan dilakukan oleh Suku Amaliqah dilanjutkan Suku Jurhum, dan selanjutnya dilakukan oleh Qushai Bin Kilab. Generasi ke-8 dilakukan oleh abdul Muthalib dan dilanjutkan oleh generasi ke-9 oleh Quraisy. Pada generasi ke-10 ini menurut catatan pembangunan (renovasi) Ka’bah dilakukan secara tertulis sehingga tercatat dalam sejarah.

Kiswah tak lebih dari beberapa potong kain sutera hitam bertuliskan ayat-ayat Alqur’an yang menyelimuti Ka’bah. Karena menyelimuti Baitulloh itulah ada segudang makna lain terkandung padanya .. Wallahu A’lam.