Cak Nur
29 August, 2005
Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roojiuun.
Selamat jalan, Cak. Usai sudah perjalanan anda di dunia fana ini. Selanjutnya tinggallah anda berhadapan langsung dengan Ilahi, mempertanggung jawabkan segala perbuatan, perkataan, fikiran yang telah anda lakukan selama ini; seperti misalnya menikahkan puteri anda dengan Yahudi. Anda akan berhadapan dengan Sang Maha Adil, ALLAH Rabbul Alamiin. (Catatan: Mengenai hal-ihwal pemikiran beliau banyak sekali literatur yang dapat dibaca. Atau kalau tidak, gunakan search-engine untuk mencari informasi tentang beliau di internet).
Sebagai pemikir hebat anda tentu punya segala argumentasi mendasari segala pendapat anda. Dan saya lebih sering terbengong-bengong membacanya. Bukan karena sebab lain, melainkan karena kebodohan saya. Membenarkan dan tidak membenarkan hilir mudik berkecamuk dalam fikiran saya. Tentu saja saya harus lebih banyak lagi membaca, belajar, dan bertenggang rasa untuk bisa memahami fikiran-fikiran anda itu.
Kini, ketika anda sudah meninggalkan segala yang fana ini, ketika anda akan berhadapan dengan pengadilan-maha-adil, saya hanya mengharap semoga kebaikanlah yang anda terima. Jangan kuatir, Cak. Allah Maha Adil!! Anda akan mendapatkan keadilan yang sempurna dari pengadilan-ilahiyyah itu.
Yang pasti amat banyak sumbangan fikiran anda buat bangsa ini. Semogalah pemikiran itu menjadi bekal anda memasuki Jannah kelak …… Bukan sebaliknya!
Penerbangan Jakarta-Jeddah, meski bernuansa amat lain, tak urung amat melelahkan. Nuansanya amat lain karena penerbangan haji dan umroh senantiasa membawa suasana bathin yang amat berbeda dibandingkan dengan perjalanan biasa. Wajah sumringah karena dalam waktu dekat akan menziarahi makam Rosululloh dan Baitulloh kadang diselingi dengan desiran hati yang serasa menyayat karena tiba-tiba sederetan dosa yang pernah dibuat menari-nari di depan mata.(Foto di atas saya bersama ummi)
Isteri saya yang sedang berpuasa sunnah betul-betul merasakan puasa yang amat lama. Pesawat seolah “mengejar” matahari sehingga waktu maghrib menjadi jauh lebih panjang. Karena bukan puasa wajib, sekitar jam 21.00 waktu Jakarta, saya minta dia membatalkan puasanya. Dari kaca jendela matahari masih bersinar terang waktu itu. Isteri saya bertahan menunggu Maghrib tiba dengan alasan tanggung, sampai kemudian dia “menyerah” ketika Ummi (ibunda saya) juga menyuruhnya membatalkan puasanya. “Nanti malah sakit … “, begitu alasan Ummi. Karena Allah Maha Adil pasti ada ganjaran pahala buat isteri saya itu meski dia tidak menyelesaikan puasanya sampai waktu Maghrib tiba. (Foto di atas ummi bersama isteri saya)
Lelaki separuh baya berpakaian agak lusuh itu terbungkuk-bungkuk hormat memasiku ruangan saya. Kepalanya berkopiah, namun terlihat kekecilan, menandakan kopiah itu seperti terpaksa dipakainya. Saya berdiri ketika dia menyalami saya. Tercium aroma rokok yang menyengat, meski dia tidak sedang merokok saat itu. Dia duduk perlahan setelah saya persilahkan.
