This is a backup of www.desa32.com. Feel free to click it.

Cak Nur

29 August, 2005

Cak Nur Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roojiuun.

Selamat jalan, Cak. Usai sudah perjalanan anda di dunia fana ini. Selanjutnya tinggallah anda berhadapan langsung dengan Ilahi, mempertanggung jawabkan segala perbuatan, perkataan, fikiran yang telah anda lakukan selama ini; seperti misalnya menikahkan puteri anda dengan Yahudi. Anda akan berhadapan dengan Sang Maha Adil, ALLAH Rabbul Alamiin. (Catatan: Mengenai hal-ihwal pemikiran beliau banyak sekali literatur yang dapat dibaca. Atau kalau tidak, gunakan search-engine untuk mencari informasi tentang beliau di internet).

Sebagai pemikir hebat anda tentu punya segala argumentasi mendasari segala pendapat anda. Dan saya lebih sering terbengong-bengong membacanya. Bukan karena sebab lain, melainkan karena kebodohan saya. Membenarkan dan tidak membenarkan hilir mudik berkecamuk dalam fikiran saya. Tentu saja saya harus lebih banyak lagi membaca, belajar, dan bertenggang rasa untuk bisa memahami fikiran-fikiran anda itu.

Kini, ketika anda sudah meninggalkan segala yang fana ini, ketika anda akan berhadapan dengan pengadilan-maha-adil, saya hanya mengharap semoga kebaikanlah yang anda terima. Jangan kuatir, Cak. Allah Maha Adil!! Anda akan mendapatkan keadilan yang sempurna dari pengadilan-ilahiyyah itu.

Yang pasti amat banyak sumbangan fikiran anda buat bangsa ini. Semogalah pemikiran itu menjadi bekal anda memasuki Jannah kelak …… Bukan sebaliknya!

Madinah

22 August, 2005

Penerbangan Jakarta-Jeddah, meski bernuansa amat lain, tak urung amat melelahkan. Nuansanya amat lain karena penerbangan haji dan umroh senantiasa membawa suasana bathin yang amat berbeda dibandingkan dengan perjalanan biasa. Wajah sumringah karena dalam waktu dekat akan menziarahi makam Rosululloh dan Baitulloh kadang diselingi dengan desiran hati yang serasa menyayat karena tiba-tiba sederetan dosa yang pernah dibuat menari-nari di depan mata.(Foto di atas saya bersama ummi)

PDA saya yang sudah diisikan program Alquran terasa hangat di genggaman, karena sejak roda pesawat meninggalkan runway Sukarno-Hatta tangan saya menggenggamnya terus, dan mata tak lepas-lepas dari ayat-ayat Alquran di layarnya. Entah berapa banyak sudah yang saya baca.

Image Hosted by ImageShack.us Isteri saya yang sedang berpuasa sunnah betul-betul merasakan puasa yang amat lama. Pesawat seolah “mengejar” matahari sehingga waktu maghrib menjadi jauh lebih panjang. Karena bukan puasa wajib, sekitar jam 21.00 waktu Jakarta, saya minta dia membatalkan puasanya. Dari kaca jendela matahari masih bersinar terang waktu itu. Isteri saya bertahan menunggu Maghrib tiba dengan alasan tanggung, sampai kemudian dia “menyerah” ketika Ummi (ibunda saya) juga menyuruhnya membatalkan puasanya. “Nanti malah sakit … “, begitu alasan Ummi. Karena Allah Maha Adil pasti ada ganjaran pahala buat isteri saya itu meski dia tidak menyelesaikan puasanya sampai waktu Maghrib tiba. (Foto di atas ummi bersama isteri saya)

Setibanya di King Abdul Aziz Airport Jeddah, setelah semua urusan selesai, dengan bis besar dan nyaman perjalanan dilanjutkan menuju Madinah. Ketika HP saya nyalakan beberapa SMS muncul. Salah satuya dari ATIDY, anak saya nomor dua, yang meminta saya segera membalas SMS itu bila saya sudah tiba. HIRZI, anak pertama saya yang ketika saya berangkat masih di kampusnya karena sedang ujian juga mengirimkan SMS menyampaikan selamat jalan. Saya langsung membalas keduanya.

Malam itu Jeddah, sebagaimana malam-malam lainnya, benar-benar bermandikan listrik. Bila saya selalu “merengut” melihat tagihan PLN setiap bulan, penduduk Arab Saudi sudah pasti tidak perlu risau memikirkannya. Tidak ada istilah “hemat energi listrik” di sana. Toko yang sudah tutup di tengah malam buta itu pun disirami cahaya listrik amat terang benderang tanpa batas watt. Satibi, mahasiswa Indonesia di Mekkah yang akan mendampingi kami selama umroh, memberitahukan bila tidak ada aral melintang insha Allah Subuh kita akan tiba di Madinah.

Image Hosted by ImageShack.usTak sabar rasanya ingin segera tiba. Tak sabar rasanya ingin “berjumpa” dengan Rosululloh. Tak sabar rasannya menunggu waktu tafakkur di Raudoh di sisi Rosululloh.

Badan yang sudah amat lelah, kepala yang agak pusing karena jetlag, mestinya langsung tertidur diayun nyaman oleh bis besar buatan Mercedes Benz itu. Tetapi kegelapan padang pasir di luar sana seperti “ganjalan” yang membuat mata sulit sekali terpejam. Saya bayangkan sebisa-bisanya bagaimana keadaan Rosululloh dahulu ketika berjalan kaki dari Mekkah ke Yatsrib (nama Madinah waktu itu). Tentu amat sangat sukar. Saya menapak tilasnya, semeter demi semeter, tetapi sambil duduk nyaman di bis ber-AC.

(nanti diterusin lagi ceritanya)

Miskin

19 August, 2005

Lelaki separuh baya berpakaian agak lusuh itu terbungkuk-bungkuk hormat memasiku ruangan saya. Kepalanya berkopiah, namun terlihat kekecilan, menandakan kopiah itu seperti terpaksa dipakainya. Saya berdiri ketika dia menyalami saya. Tercium aroma rokok yang menyengat, meski dia tidak sedang merokok saat itu. Dia duduk perlahan setelah saya persilahkan.

Ketika saya tanyakan apa maksudnya, lelaki itu menjawabnya dengan sebuah pertanyaan: “Saya dengar bapak memberikan bantuan SPP setiap bulan kepada murid-murid yang tidak mampu?”

“Insya Allah. Tetapi bukan dari uang saya pribadi. Ada beberapa hamba Allah yang mengamanatkan infaknya kepada saya, yang lalu saya salurkan kepada murid-murid yang tak mampu berupa SPP.”

“Apa anak saya bisa mendapatkan bantuan itu, pak?”, tanyanya mengharap.

“Bantuan SPP hanya diberikan kepada siswa yang orang tuanya miskin. Kalau bapak merasa, maaf, miskin anak bapak tentu bisa mendapatkan bantuan itu.”

“Saya miskin, pak. Saya hanya penarik becak. Saya ingin anak saya bisa terus bersekolah.” Bapak itu berkata perlahan, nampir tidak terdengar. Aroma rokok kembali memasuki indra penciuman saya. Tampak juga jejeran giginya yang berwarna kekuningan karena nikotin.

“Baik. Insya Allah anak bapak nanti dibantu SPPnya. Cuma saya ingin sedikit bertanya. Boleh kan, pak?”

“Silahkan, pak.”

“Bapak merokok, kan? Berapa batang bapak habiskan sehari?”

Lelaki separuh baya itu tidak serta merta menjawabnya. Dia kelihatan agak gelisah. Mungkin mencoba menebak-nebak arah pembicaraan saya. “Tidak tentu, pak”, jawabnya perlahan. “Kadang sebungkus sehari.”

Saya langsung menyergapnya dengan pertanyaan: “Bila untuk merokok anda punya uang, mengapa untuk menyekolahkan anak anda mengaku miskin dan meminta bantuan saya …?”

Lelaki separuh baya itu tersenyum pahit, dan tiba-tiba saya menjadi amat benci kepada sosok yang baru saya lihat itu. Betapa tidak? Untuk rokok yang jelas-jelas merusak tubuhnya lelaki itu merasa sangat perlu membelanjakan uang untuk membelinya, namun untuk pendidikan anaknya yang nyata-nyata bermanfaat dia mengaku miskin ….

(Setiap tahun ajaran baru saya hampir selalu menemui manusia seperti ini ..)

Maulid Nabi

13 August, 2005

Setiap kali saya mengisi formulir saya hampir selalu harus mengisi tanggal dan tempat lahir. Entah kenapa tempat lahir selalu disebut berdampingan dengan tanggal lahir. Bila tanggal lahir berkaitan dengan umur seseorang, adakah kaitan sangat istimewa antara tempat lahir seseorang dengan dirinya sehimgga harus selalu ditulis hampir di setiap formulir?

Almarhum paman saya lahir di Mekkah, namun beberapa bulan kemudian kembali berlayar pulang ke Indonesia, tanpa menyisakan sedikitpun kenangan tentang Mekkah. Mekkah tempat tumpah darahnya itu baru kemudian dikunjunginya lagi kira-kira 30 tahun kemudian ketika beliau berhaji. Namun beliau bolehlah berbangga karena setiap kali menuliskan tempat lahir kata yang dituliskannya itu merupakan tempat suci kita semua.

Tetapi tentu saja suasana hati menjadi amat sangat berbeda ketika ummi (ibu saya) mengajak saya berziarah ke tempat kelahiran nabi pada saat umroh beberapa waktu yang lalu. Ada rasa rindu yang menghentak dan keinginan yang begitu menggebu untuk segera tiba di sana. Letaknya ternyata amat dekat dengan tempat menginap kami. Selepas Hotel Sofitel dan Pasar Seng, beberapa puluh langkah saja kami sudah sampai di sana. (Foto di atas isteri saya di depan tempat kelahiran Rosululloh.)

Puluhan merpati menyongsong kami. Ada degupan jantung tak karuan mengikuti langkah demi langkah mendekati tempat terhormat itu. Menaiki tangga sedikit, sampailah kami di sana: tempat Rosululloh dilahirkan! Wujudnya kini amat sangat sederhana, sebuah perpustakaan yang relatif kecil yang dibangun pemerintah Saudi Arabia karena tidak ingin ada penyembahan ummat di situ.

Saya masuk ke dalam. Isteri dan ummi saya menunggu di luar. Entah mengapa kaum hawa dilarang masuk ke sana. Suasananya sejuk dan relatif sepi. Barangkali tidak banyak yang tahu kalau perpustakaan di sisi Masjidil Harom itu adalah tempat kelahiran Rosul. Saya hanya tercenung di sana. Menarik nafas dalam-dalam, mencoba membayangkankan kehadiran Rosululloh di dalam relung-relung bathin saya. Air mata perlahan menitik, dan desiran di dalam hati makin memperbanyak titik-titik air mata menggenangi pipi saya.

Semoga cintaku senantiasa bertambah kepadamu, ya Rosululloh !

Uhud

11 August, 2005

Saya dengan latar belakang Jabal RumaatAda banyak hal yang bisa kita gali dalam peristiwa Perang Uhud. Seperti misalnya bagaimana kekalahan tentara Islam pada waktu itu terjadi karena pasukan pemanah tidak mematuhi perintah Rosululloh untuk tetap bertahan di jabal Rumaat (sebuah bukit kecil di kawasan Uhud) karena tergiur harta pampasan perang, dan juga tentang seseorang yang masuk surga tanpa pernah sholat atau puasa seumur hidupnya.

(Di atas adalah foto saya dengan latar belakang Jabal Rumaat.)

Namanya adalah Amar bin Thabit, berasal dari suku Asyahali. Meski hampir seluruh kaumnya sudah memeluk Islam, Amar masih tetap pada keyakinan lamanya. Hatinya tetap tertutup! Manakala beberapa teman dekatnya mengajaknya memeluk Islam dengan agak pongah Amar menjawab: “Aku pasti akan memeluknya bila aku yakin akan kebenarannya”.

Dan keyakinan akan kebenaran Islam itu datang ketika Rosululloh bersama kaum Muslimin sedang sangat sibuk mempersiapkan perang Uhud. Pada saat itulah Amar bersyahadat, dan langsung berjihad di medan Uhud ..

Amar berperang dengan amat sangat gagah berani. Pedangnya berkilatan ke sana kemari menebas siapa saja tentara Quraisy yang ada di sekitarnya. Namun takdir Allah menetapkan Amar meninggal dalam perang Uhud ini. Ruhnya menghadap ke hadirat Ilahi sebagai syahid.

Waktu hal ini diketahui Rasul S.A.W, maka baginda pun bersabda, “Amar itu nanti akan berada dalam syurga nantinya.”

Kaum Muslimin pun mengetahui akhir hayat Amar dengan penuh takjub, sebab di luar dugaan mereka. Abu Hurairah r.a. sahabat yang banyak mengetahui hadith Nabi S.A.W berkata kepada kaum Muslimin, “Cobalah kamu kemukakan kepadaku seorang yang masuk syurga sedang dia tidak pernah bersyarat sekalipun juga terhadap Allah.”

“Jika kamu tidak tahu orangnya maka baiklah aku beritahukan, itulah dia Amar bin Thabit.”