Setelah berjam-jam terbang di dalam perut pesawat Garuda akhirnya tibalah kami di King Abdul Aziz International Airport Jeddah. Ini adalah kali yang kedua saya menjejakkan kaki di airport negara sangat kaya ini. Yang pertama beberapa tahun silam ketika berhaji. Seorang rekan yang sering ke Arab Saudi memberi tahu saya bahwa terminal haji di bandara ini berbeda dengan terminal penerbangan reguler. Bila terminal haji lapang dan dengan konstruksi menyerupai tenda Badui yang kelihatan sangat monumental (lihat foto) terminal reguler cenderung sempit, bersahaja, dan di luar sangat semerawut; sangat tidak patut untuk sebuah airport negara sekaya Saudi Arabia.
Setalah pemeriksaan imigrasi dan pencarian bagasi yang relatif cepat, mungkin karena tidak ada airline lain yang tiba pada saat berdekatan, saya langsung mengikuti pekerja Bangladesh yang membawa troley keluar terminal. Langkah pembawa barang itu sangat cepat, sehingga ummi (ibu) dan isteri saya yang menuntunnya agak tertinggal di belakang. Saya meminta si Bangladesh itu melambatkan langkahnya. Tapi teriakan saya dalam bahasa Inggeris itu agaknya tidak difahaminya. Ahirnya saya memutuskan untuk memegangi troley itu untuk menghentikannya. Si Bangladesh tampak kurang senang dengan apa yang saya lakukan itu, tetapi ketika saya menunjuk ummi dan isteri saya yang tertinggal cukup jauh di belakang, dia tersenyum dan mengucapkan sesuatu yang tidak saya fahami. Mungkin permintaan maaf. Kami lantas berjejeran berjalan lebih perlahan menuju keluar terminal.
Dan benar saja ….!
Suasana di luar terminal sangat hiruk-pikuk seperti terminal bis saja layaknya. Penjemput dan yang dijemput berseliweran ditingkahi dengan suara dari berbagai bahasa. Meski ramai luar biasa saya tetap merasa tenang karena negara ini aman sekali. Luar biasa bodoh bila ada orang yang tetap saja nekad mencuri dengan hukuman potong tangan, padahal amat mudah mencari rezeki halal di sini.
Untung tak berapa lama kemudian muncul Satibi mahasiswa Lombok yang akan menemani kami selama Umroh. Dia langsung membawa kami ke tempat yang agak lebih sepi sambil menunggu beberapa rekan lain yang belum keluar.
Sepuluh hari kemudian ketika kami hendak pulang, suasana hiruk-pikuk itu lebih parah lagi. Selepas turun dari bis yang membawa kami dari hotel, lautan manusia sudah memenuhi pintu masuk terminal. Kami harus mengantri sambil berdesakan. Syukur alhamdulillah koper-koper besar sudah dibawa terlebih dahulu (syukron katsir Pak Shalahuddin), sehingga bawaan kami tidaklah terlalu merepotkan.
Lagi-lagi saya harus bersyukur atas kemudahan yang diberikan Allah pada saat itu. Seorang petugas Bandara meneriakan “Indonesia” dan “Garuda” berkali-kali sebagai tanda bahwa kami harus masuk ke terminal terlebih dahulu, karena waktu takeoff pesawat kami tinggal satu jam lagi. Maka antrian massa yang kebanyakan dari Pakistan pun menyeruak memberi jalan.
Sampai di dalam terminal …. astaghfirullohal aziim, terjadi antrian panjang lagi untuk pemeriksaan bagasi. Wajah ummi dan isteri saya kelihatan agak cemas. Saya juga agak cemas melihat suasana seperti itu, tetapi saya tidak menampakkannya. Perlahan antrian maju menuju pemeriksaan x-ray. Di ujung antrian laki-laki dan perempuan dipisah. Saya di sebelah kiri. Ummi dan isteri saya di sebelah kanan. Kami masih bisa saling pandang, sehingga kecemasan ummi karena harus dipisahkan itu tidak terlalu menjadi-jadi. Akhirnya selesailah sudah pemeriksaan barang. Setelah itu suasana berubah menjadi lebih manusiawi. Urusan boarding diselesaikan oleh pak Shalahuddin dan teman-temannya, sehingga kami hanya duduk-duduk saja melepaskan lelah.
Untuk sebuah negara sekaya Arab Saudi terminal udara seperti itu amatlah tidak patut!
Komentar lain tentang King Abdul Aziz International Airport Jeddah ini silakan klik link ini.