Mudik 2005
8 November, 2005
Selepas sholat Ied dan bermaaf-maafan dengan semua keluarga, kami kembali mudik. Anak saya tertua, Hirzi, tidak ikut karena harus menjaga rumah. Tujuan mudik: Klampok, Kabupaten Banjar Negara, Jateng.
Ada banyak jalur yang biasa saya tempuh. Bila melalui jalur pantura, selepas tol Cikampek mobil saya arahkan ke kiri menyusuri jalur Patok Beusi, Ciasem, Pamanukan, Kandang Haur, Celeng, Jatibarang dan kemudian memasuki toll Panci (Palimanan - Kanci). Setelah memasuki daerah Jawa Tengah di sekitar Losari mobil saya arahkan ke kanan, melintasi rel keretaapi mengambil jalur alternatif melalui Ketanggungan, Songgom, dan Prupuk; untuk selanjutnya melalui Bumi Ayu, Aji Barang, Purwokerto, Sukaraja, Purbalingga, dan Klampok.
Saya kadang mengambil jalur lain melalui Cikamurang. Bila jalur ini yang diambil saya akan keluar di pintu tol Sadang, ambil jalan lurus menuju Kali Jati, Subang, dan dilanjutkan ke jalur Cikamurang. Jalur ini berakhir di kecamatan Tomo untuk selanjutnya bergabung dengan jalur Sumedang-Palimanan-Cirebon. Isteri saya sangat menyukai jalur ini karena sepi dan tidak perlu “sport jantung” melihat aksi ugal-ugalan sopir bis pantura. Lazimnya waktu tempuh melalui jalur ini relatif lebih lama 1 jam dibandingkan dengan melalui jalur pertama.
Ada lagi jalur lain yang bisa saya tempuh, jalur selatan, namun agak jarang saya lalui meski saya suka melalui jalannya yang berkelok-kelok. Melalui jalur ini waktu tempuh sudah terpotong cukup panjang dengan adanya jalan tol Cipularang (Cikampek-Purwakarta-Padalarang).
Sejak saya menikah tahun 1985, entah sudah berapa puluh kali saya pulang mudik ke daerah isteri saya itu. (Saya sendiri “tidak punya kampung”). Dalam kurun waktu itu, seingat saya, tidak pernah sekalipun saya menggunakan kendaraan umum. Jadi bolehlah saya katakan bahwa jalur-jalur di atas lumayan saya hafal liku-likunya.
Mudik kali ini, dengan asumsi arus mudik sepi (karena hari H lebaran) saya memutuskan melalui jalur pantura. Dugaan saya benar. Jalur sepi sekali dan cenderung lebih lengang dibanding hari biasa. Berkali-kali isteri saya protes melihat jarum speedo-meter yang sudah melalui titik-aman menurut versinya. Protesnya selalu saya penuhi, tetapi untuk sementara waktu; selanjutnya kembali saya memacu kendaraan sesuai keinginan. Protesnya kembali muncul sesaat setelah dia melirik jarum speedo-meter. Itulah sebabnya saya hampir selalu meletakkan HP di dekat speedo-meter agar menghalangi sedikit penglihatan isteri saya, dan karenanya mengurangi sedikit “kebawelannya”.
(nanti dilanjutkan lagi)
Insha Allah hari ini adalah hari terakhir Ramadhan dan besok adalah Hari Idhul Fitri 1 Syawal 1426 H. Ada banyak sekali kenangan masa kecil barkaitan dengan hari raya ini. Beberapa terukir kuat di dalam hati dan masih terus menimbulkan nostalgia manis.