This is a backup of www.desa32.com. Feel free to click it.

Mudik 2005

8 November, 2005

Image Hosted by ImageShack.usSelepas sholat Ied dan bermaaf-maafan dengan semua keluarga, kami kembali mudik. Anak saya tertua, Hirzi, tidak ikut karena harus menjaga rumah. Tujuan mudik: Klampok, Kabupaten Banjar Negara, Jateng.

Ada banyak jalur yang biasa saya tempuh. Bila melalui jalur pantura, selepas tol Cikampek mobil saya arahkan ke kiri menyusuri jalur Patok Beusi, Ciasem, Pamanukan, Kandang Haur, Celeng, Jatibarang dan kemudian memasuki toll Panci (Palimanan - Kanci). Setelah memasuki daerah Jawa Tengah di sekitar Losari mobil saya arahkan ke kanan, melintasi rel keretaapi mengambil jalur alternatif melalui Ketanggungan, Songgom, dan Prupuk; untuk selanjutnya melalui Bumi Ayu, Aji Barang, Purwokerto, Sukaraja, Purbalingga, dan Klampok.

Saya kadang mengambil jalur lain melalui Cikamurang. Bila jalur ini yang diambil saya akan keluar di pintu tol Sadang, ambil jalan lurus menuju Kali Jati, Subang, dan dilanjutkan ke jalur Cikamurang. Jalur ini berakhir di kecamatan Tomo untuk selanjutnya bergabung dengan jalur Sumedang-Palimanan-Cirebon. Isteri saya sangat menyukai jalur ini karena sepi dan tidak perlu “sport jantung” melihat aksi ugal-ugalan sopir bis pantura. Lazimnya waktu tempuh melalui jalur ini relatif lebih lama 1 jam dibandingkan dengan melalui jalur pertama.

Image Hosted by ImageShack.usAda lagi jalur lain yang bisa saya tempuh, jalur selatan, namun agak jarang saya lalui meski saya suka melalui jalannya yang berkelok-kelok. Melalui jalur ini waktu tempuh sudah terpotong cukup panjang dengan adanya jalan tol Cipularang (Cikampek-Purwakarta-Padalarang).

Sejak saya menikah tahun 1985, entah sudah berapa puluh kali saya pulang mudik ke daerah isteri saya itu. (Saya sendiri “tidak punya kampung”). Dalam kurun waktu itu, seingat saya, tidak pernah sekalipun saya menggunakan kendaraan umum. Jadi bolehlah saya katakan bahwa jalur-jalur di atas lumayan saya hafal liku-likunya.

Mudik kali ini, dengan asumsi arus mudik sepi (karena hari H lebaran) saya memutuskan melalui jalur pantura. Dugaan saya benar. Jalur sepi sekali dan cenderung lebih lengang dibanding hari biasa. Berkali-kali isteri saya protes melihat jarum speedo-meter yang sudah melalui titik-aman menurut versinya. Protesnya selalu saya penuhi, tetapi untuk sementara waktu; selanjutnya kembali saya memacu kendaraan sesuai keinginan. Protesnya kembali muncul sesaat setelah dia melirik jarum speedo-meter. Itulah sebabnya saya hampir selalu meletakkan HP di dekat speedo-meter agar menghalangi sedikit penglihatan isteri saya, dan karenanya mengurangi sedikit “kebawelannya”.

(nanti dilanjutkan lagi)

Idhul Fitri

2 November, 2005

Image Hosted by ImageShack.usInsha Allah hari ini adalah hari terakhir Ramadhan dan besok adalah Hari Idhul Fitri 1 Syawal 1426 H. Ada banyak sekali kenangan masa kecil barkaitan dengan hari raya ini. Beberapa terukir kuat di dalam hati dan masih terus menimbulkan nostalgia manis.

Di waktu saya kecil selekas menunaikan sholat Ied dan bersilaturahmi dengan tetangga dekat dan menziarahi kubur Engkong Amang (K.H. Abdurrahman Shodri) yang terletak di belakang rumah, allahyarham Abi segera menyewa mobil untuk berziarah ke kubur kakek: almarhum Engkong (kakek) Amsar di Kampung Baru Jakarta Timur. Di Kampung Baru inilah Abi berasal. Ummi dan kakak-adik yang wanita tidak berziarah ke kubur dan menunggu di salah satu rumah paman kami. Selesai berziarah kubur semua keluarga besar Abi biasanya sudah berkumpul untuk bersilaturahmi lebaran.

Kami tidak lama di Kampung Baru dan langsung kembali pulang ke Bekasi. Biasanya tiba di rumah sekitar jam 10 pagi dan hampir dapat dipastikan sudah banyak murid-murid Abi yang menunggu. Selepas sholat Zuhur dengan opelet kami melanjutkan perjalanan menuju Pisangan Lama, tempat kediaman Engkong Shodri. Engkong Shodri (mestinya kami memanggil beliau Uyut) adalah ayah dari Engkong Amang.

Kami menginap semalam di Pisangan Lama. Keesokan paginya dengan menggunakan becak kami menuju rumah “baba aji” (alm. K.H. Ahmad Mukhtar) di Bukit Duri Tanjakan. Setelah beberapa lama bersilaturahmi lebaram di rumah “baba aji” kami kembali ke Bekasi.

Sekarang, manakala kami semua sudah berkeluarga rutinitas seperti itu tidak lagi kami lakukan. Masing-masing memilih waktunya sendiri-sendiri untuk bersilaturahmi.

Manakala Abi tercinta kami dipanggil oleh Yang Maha Empunya, Allah Robbul Alamin, yang beberapa bulan kemudian diikuti oleh adik saya: alm. H. A. Zufar Muhadjirin, pola rutin keluarga besar kami berubah. Selepas sholat Ied dan menziarahi kubur Engkong Amang, beriring-iringan kendaraan kami bergerak menuju kubur Abi. Setelah menziarahi kubur Abi, perjalanan dilanjutkan ke kubur almarhum H. A. Zufar. Setelah seleai kami berpencar mengunjungi rumah mertua maing-masing.

SELAMAT HARI IDHUL FITRI. MOHON MAAF LAHIR BATHIN.