This is a backup of www.desa32.com. Feel free to click it.

DetikDotCom

30 December, 2005

www.detik.comDi antara sekian banyak situs yang “wajib” saya kunjungi setiap hari, ada satu situs yang saya amat patut berterimakasih kepadanya: www.detik.com. Update berita yang dilakukannya membuat saya selalu merasa tidak pernah ketinggalan berita. Apalagi di musim haji ini, ketika cukup banyak kerabat dekat saya berhaji, laporan Arifin Asydad dari Tanah Suci benar-benar saya rasakan manfaatnya.

Namun di sisi lain saya merasa berdosa kepada detik.com ini. Ya, sungguh! Sekali lagi saya katakan: saya merasa berdosa kepadanya!

Kok ..?

Sejak saya berketetapan hati untuk say goodbye dengan Internet Explorer dan menggunakan FIREFOX sebagai browser saya, program itu amat memanjakan saya terutama dengan begitu banyaknya extension yang tersedia. Salah satu extension yang saya pergunakan adalah ADBLOCK. Dengan extension ini semua banner iklan yang tidak kita inginkan bisa hilang musnah dari halaman monitor. Termasuk semua banner iklan yang terdapat di situs www.detik.com. Padahal kita semua tahu bahwa banner iklan adalah penghasil pendapatan untuk kelangsungan hidup perusahaan.

Sekali lagi saya amat berterimakasih kepada www.detik.com. Semoga pak Budiono Darsono dan segenap crew Detikdotcom ikhlas saya membacanya tanpa sepotongpun iklan ada di layar monitor saya. :)

DIVA

25 December, 2005

Image Hosted by ImageShack.usApa yang terlintas dalam fikiran anda kalau saya menyebut kata: Mesir? Fir’aun dengan segala peninggalannya? Al Azhar? Terusan Suez? Tempat anggota DPR bertamasya beberapa hari yang lalu? Atau, Oum Kulthum (Ummi Kulsum), seorang penyanyi legendaris Mesir yang lagu-lagunya masih banyak dinikmati orang hingga kini?

Saya termasuk sangat menggemari lagu-lagunya, yang tersedia cukup banyak di internet meski kualitas audionya sangat kurang. Mungkin karena semua lagunya direkam langsung di tempat pertunjukan dan teknologi rekaman pada waktu itu (40 ~ 60an) tentu saja sangat “primitif” dibandingkan dengan sekarang.

Di mobil saya hampir selalu mendengarkan lagu-lagunya. Suaranya senantiasa menyegarkan suasana hati dan fisik saya ketika sedang berkendara. Terasa juga suasana nostalgik membayangkan almarhum abi saya tengah mendengarkan lagu itu. Almarhum juga menyukai lagu-lagu Oum Kulthum. Di antara sekian banyak lagunya, beberapa merupakan favorite saya: Ghanni li shwayya shwayya (1945), Efroh Ya Albi, Alf laylah wi-laylah (1969), dan sebuah “lagu wajib”: Alathlal (1966). Al Athlal liriknya dibuat oleh: DR. Ibrahim Nagi, sedangkan musiknya digarap oleh: Riad Al-Sonbati. Bila anda menginginkan teks lagu ini silakan klik di sini.

Oum Kulthum dilahirkan dalam sebuah keluarga miskin. Ayahnya, al-Shaykh Ibrahim al-Sayyid al-Baltaji (meninggal tahun 1932) adalah seorang imam masjid di kampungnya. Sedangkan ibunya, Fatmah al-Maliji (meninggal tahun 1947) adalah seorang ibu rumah tangga. Tidak ada catatan resmi mengenai tanggal lahirnya. Namun tanggal 4 May 1904 merupakan data yang banyak disebut oleh banyak sumber. Oum Kulthum meninggal karena gagal jantung pada tanggal 3 Februari 1975. Lebih lanjut tentang biografi beliau silakan klik link ini.

Untuk mendengarkan banyak lagu beliau silakan klik link ini.

Malu

16 December, 2005

gambar babiWaktu di pesantren dahulu dalam pelajaran Mantiq ada satu ungkapan yang sangat dikenal yaitu: Alinsaanu haiwanunnaatiq, Manusia itu adalah hewan yang berfikir. (Natiq kerap juga diterjemahkan “berbicara”.) Ini artinya mahluk yang namanya manusia itu tidak ada bedanya dengan anjing, monyet, babi, dsb; bila mereka tidak berfikir. Selayaknya kita semua pasti bisa berfikir karena Allah memberikan akal secara default.

Salah satu output dari kemampuan manusia berfikir adalah: rasa malu. Manusia yang tidak punya malu adalah manusia yang tidak berfikir. Dan manusia yang tidak berfikir (sesuai dengan paragraf di atas) adalah hewan. Meraka sama saja dengan babi, anjing, dsb.

Hari ini Jumat 16 Desember 2005 semua media massa memberitakan tentang sejumlah anggota DPR yang melakukan “kunjungan kerja” ke Mesir. Semua orang tahu bahwa “kunjungan kerja” itu tak lebih dari sebuah piknik. Piknik yang dibiayai uang rakyat, yang tengah megap-megap sekedar untuk bisa makan!

Pertanyaannya: Apakah anggota dewan yang terhormat itu masih punya rasa malu ..?

J

9 December, 2005

Satu hari Sultan merasa sungguh “boring n bete abis”, jadi dia Tanya Bendahara, “Bendahara, siapa paling pandai saat ini?”
“Abunawas” jawab Bendahara. Sultan pun manggil Abunawas n baginda bertitah : “Kalau kamu pandai, coba buat satu cerita seratus kata tapi setiap kata mesti dimulai dengan huruf ‘J’.

Terperanjat Abunawas, tapi setelah berfikir, diapun mulai bercerita:

Jeng Juminten janda judes, jelek jerawatan, jari jempolnya jorok. Jeng juminten jajal jualan jamu jarak jauh Jogya-Jakarta. Jamu
jagoannya: jamu jahe. “Jamu-jamuuu…, jamu jahe-jamu jaheee…!”
Juminten jerit-jerit jajakan jamunya, jelajahi jalanan.

Jariknya jatuh, Juminten jatuh jumpalitan. Jeng Juminten jerit-jerit: “Jarikku jatuh, jarikku jatuh…” Juminten jengkel, jualan jamunya jungkir-jungkiran, jadi jemu juga.

Juminten jumpa Jack, jejaka Jawa jomblo, juragan jengkol, jantan, juara judo. Jantungnya Jeng Juminten janda judes jadi jedag-jedug.
Juminten janji jera jualan jamu, jadi julietnya Jack.

Johny justru jadi jelous Juminten jadi juliet-nya Jack. Johny juga jejaka jomblo, jalang, juga jangkung. Julukannya, Johny Jago Joget.
“Jieehhh, Jack jejaka Jawa, Jum?” joke-nya Johny. Jakunnya jadi jungkat-jungkit jelalatan jenguk Juminten. “Jangan jealous, John…”
jawab Juminten.

Jumat, Johny jambret, jagoannya jembatan Joglo jarinya jawil-jawil jerawatnya Juminten. Juminten jerit-jerit: “Jack, Jack, Johny jahil, jawil-jawil!!!” Jack jumping-in jalan, jembatan juga jemuran. Jack jegal Johny, Jebreeet…, Jack jotos Johny. Jidatnya Johny jenong, jadi jontor juga jendol… jeleekk. “John, jangan jahilin Juminten…!” jerit Jack. Jantungnya Johny jedot-jedotan, “Janji, Jack, janji… Johnny jera,” jawab Johny. Jack jadikan Johny join jualan jajan jejer Juminten.

Jhony jadi jongosnya Jack-Juminten, jagain jongko, jualan jus jengkol jajanan jurumudi jurusan Jogja-Jombang, julukannya Jus
Jengkol Johny “Jolly-jolly Jumper.”

Jatatan: Jontekan jari jebuah jilis …..

Abdul Basith

3 December, 2005

Pernah mendengar nama Abdul Basith Abdusshomad? Insya Allah pasti anda pernah mendengarnya. Malah mungkin anda adalah hamba Allah yang senantiasa “terhanyut” mendengarkan bacaan ayat suci Alquran yang dikumandangkannya.

Saya amat mengagumi beliau. Tiap kali saya mendengarkan kemerduan suara beliau, saya merasa “kegerahan iman” saya mendapatkan penyejukan yang tiada tara. Tidak jarang bila saya merasa kejenuhan yang sangat dalam perjalanan, saya segera mendengarkan suara beliau, dan perjalanan menjadi kian menyenangkan.

Hari ini 17 tahun yang lalu, 30 November 1988, Allah Pemilik Segala mengambil ruhnya. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roojiuun! Semogalah Allah Robbul Izzaati menempatkannya di tempat yang amat indah di alam kubur, untuk selanjutnya menjadikannya penghuni JannatunNa’iim. Ammiiin.