Jamarot
20 January, 2006
Prosesi melontar Jumroh dalam rangkaian ibadah haji kembali memakan korban. Setidaknya 385 jamaah wafat terinjak-injak. Beberapa di antaranya adalah jamaah haji Indonesia. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roojiuun. Detikdotcom melaporkan kejadiannya seperti ini.
Syurga lah tempat yang amat layak untuk para korban. Insya Allah.
Rasanya saya dan isteri saya amat bisa merasakan bagaimana suasananya. Beberapa tahun yang silam, ketika kami berkesempatan menunaikan ibadah haji fardhu, saat selesai melontar adalah saat di mana malaikat maut terasa sangat dekat dengan kami. Dorongan kiri-kanan-depan-belakang dari jamaah Afrika dan Turki yang badannya (maaf!) sebesar kerbau, dan aromanya (maaf lagi!) menyesakkan hidung, membuat isteri saya limbung dan terjatuh. Untung jatuhnya ke arah saya sehingga saya dengan mudah menangkap badannya untuk kemudian sambil memeluknya kuat-kuat dengan susah payah saya bawa menjauh, di tengah dorongan dahsyat dari segala penjuru! Belakangan sisteri saya bercerita bahwa saat itu dia sudah hampir tidak sadar, dan baru sepenuhnya sadar ketika dia sudah beberapa lama duduk beristirahat di tempat yang agak sepi.
Karena hampir setiap tahun selalu terjadi musibah seperti ini, dan mengingat ALLAH MAHA RAHIM, dan karena KerahimanNYA itu tentu saja DIA hanya memerintahkan ibadah yang tidak membahayakan jiwa, barangkali para ahli Fiqih, Tafsir, Hadits, dan ilmu-ilmu lain terkait harus memikirkan jalan keluar dari permasalahan mengerikan seperti ini.

Keterangan foto:
Ummi bersama isteri saya berpose di bagian bawah Jumrotul Kubro pada kesempatan Umroh beberapa bulan yang lalu. Pada waktu itu kawasan Jamaroot tengah diperlebar dan dalam tahap akhir pengerjaan.
Masalah yang selalu dikeluhkan anak-anak manakala kami bepergian bersama adalah: mobil sempit. Ya, tentu saja sempit! Sebuah sedan jangan diharapkan bisa ditumpangi nyaman oleh sebuah keluarga dengan lima orang anak. Hirzi dan Tidy malah lebih sering menolak ikut karena faktor sempit itu tadi.