Tanpa Lilin
26 September, 2006Apa yang terlintas dalam fikiran anda membaca frase: without wax ? Digital Fortress ..? Benteng Digital ..? Dan Brown ..?
Without wax adalah frase penutup surat David Becker kepada pasangannya Susan Fletcher seorang ahli sandi di NSA, sebuah badan sangat berpengaruh di Amerika yang bertugas mengumpulkan data intelijen elektronik dari seluruh dunia. Dua buah kata yang membuat Susan hampir “gila” menebak maksudnya, yang baru terbuka jelas di akhir cerita. Sebuah kisah yang enak dibaca dan sangat menarik. Novel karangan Dan Brown itu (ingat The Da Vinci Code?) saya suka karena beberapa hal: bercerita tentang komputer, wanita cantik yang sangat pandai, dan seorang guru. Saya selalu suka membaca novel tentang guru, apalagi manakala si guru itu berpasangan dengan wanita cantik dan pandai. Mengapa demikian? Jawabannya sederhana: saya seorang guru ..
Di Indonesia tercinta ini menjadi guru boleh jadi bukan pilihan yang menarik. Bukan karena tidak mulia. Sampai kapanpun guru adalah professi yang mulia. Tetapi karena menjadi guru itu berarti harus hidup dengan penghasilan yang amat minim. Bila hanya mengandalkan penghasilan dari mengajar (mohon maaf!) tidak ada seorang gurupun yang bisa berkecukupan. Menjadi guru berarti menjadi manusia yang setiap bulan harus mengatur uang dengan sangat ketat.
David Becker bukan guru seperti itu. Dia hidup dalam suatu negara yang memberikan penghasilan cukup buat seorang pengajar. Tidak sedikitpun rasa rendah dirinya ketika kemudian dia berkenalan dan menjadi dekat dengan Susan Fletcher, wanita cantik, sangat pintar, dan berpenghasilan sangat tinggi.
Ahhh … andaikan saja …..